Apakah yang kita peringati pada tanggal 14 Februari? Hari valentine? Oke, perbarui catatan anda: salah satu letusan gunung Kelud yang cukup besar.
Bagi saya yang mempelajari geologi secara, sedikit, lebih intensif dibandingkan dengan beberapa teman di Sekolah Menengah Atas (SMA), letusan gunung Kelud cukup mengerikan untuk dibayangkan. Ketika menyadari bahwa letusan gunung tersebut terdengar dari wilayah saya yang berjarak sekitar 200 km, satu hal yang terlintas di benak saya: does plinian eruption came back to Indonesia already? This time? Disini saya tidak akan membahas tentang tipe letusan plinian, anda bisa menemukannya di blog-blog lain yang membahas tentang letusan Krakatau, atau sejarah terjadinya danau Toba yang merupakan contoh letusan ekstraplinian. Maka ketakutan cukup saya rasakan pada 13 Februari 2014 sekitar pukul 11.00 WIB ketika saya dan keluarga saya terbangun karena kaca jendela bergetar dan suara erupsi terdengar seperti letupan bom yang cukup dekat.Keesokan harinya: semuanya memutih, langit kemerahan, dan jalanan gelap tertutup abu. Impressive, tapi menakutkan dan mengkhawatirkan.
Kemudian, tentu ada waktu yang harus dialokasikan untuk mengagumi dan mengabadikan suasana di sekitar rumah:
![]() |
| ketebalan abu di dedaunan di sekitar rumah |
![]() |
| seolah berjalan di atas salju, salju yang sangat mengkhawatirkan |
Seminggu setelah hari kelabu tersebut berakhir, barulah saya menyadari, dan cukup lega, bahwa erupsi gunung Kelud bukanlah jenis plinian. Akan tetapi, saya juga memperoleh informasi dari wikipedia, saya harap saya tidak membaca laman ini hari itu, bahwa Kelud pernah memiliki jenis erupsi, saya lupa istilah tepatnya, katakanlah tergolong plini namun masih lebih rendah dari plini.
Akan tetapi, bagaimanapun juga, wilayah saya bukanlah yang mendapat dampak terburuk.
















