Kamis, 14 November 2013

The Five Jewels: Permata Kelima



1.      Permata kelima
“Sekolah ini didirikan lebih dari seratus tahun yang lalu. Sejak saat itu sekolah ini memilih sendiri murid-muridnya. Setiap tahun sekolah ini menerima sekitar 240 siswa dari seluruh dunia. Kami ucapkan selamat kepada para siswa baru yang telah berhasil masuk ke sekolah ini.” Tepuk tangan membahana dari seluruh peserta upacara. “Dan untuk mengetahui kelas kalian masing-masing silahkan ikuti dewan sekolah yang ada di hadapan kalian. Selamat datang di sekolah baru kalian!”
“Come on! Follow me! Kelas satu A di sebelah sini,” kata seorang gadis berjubah putih bersih yang entah datang darimana. Hai boleh berkenalan? Namaku Emilson panggil saja aku Emy, katanya lagi sambil mengulurkan tangan ke arah tiga anak yang berada di barisan paling depan.
“Aku Anne Pirch,” kata gadis berambut agak keriting.
“Kau?” tanyanya lagi.
“Peter,” jawab seorang anak laki-laki di samping Anne.
Dan—”
“Howard, jawab anak yang berdiri paling ujung.
“Ku rasa kalian saling mengenal, benar?” tanya Emy.
“Ya, benar, kami dari satu negara,” jawab Howard.
“Walaupun sebenarnya baru berkenalan tadi,” komentar Anne.
“Bagus, persaudaraan perlu dijaga, dan kalian memiliki tiga permata lain; biru, merah, dan hijau. Kau memiliki permata hijau, Peter, kata Emy setelah memperhatikan liontin kalung milik ketiga anak itu.
“Ya, Ibuku memberikannya sebelum ia meninggal dunia.”
“Aku turut berduka, kata gadis itu sambil berbelok ke sebuah lorong panjang. Ia terus berjalan menyusuri lorong itu dengan cepat. Beberapa siswa lama tampak memperhatikan rombongan mereka. “Ini kelasnya, katanya dengan tiba-tiba membuat beberapa anak terkejut. “Silahkan masuk,”  lanjutnya sambil membukakan pintu. Setelah memastikan semua siswa masuk ia menutup pintu dan pergi dengan sangat terburu-buru. Kurasa itulah satu-satunya alasannya meninggalkan kelas itu, kecuali bila ada alasan lain.
Kelas itu ramai sesaat. Karena ramainya bahkan orang-orang dapat mendengarnya dari kantor guru yang berjarak puluhan meter dari tempat itu. Beberapa saat kemudian Emy kembali, sejenak ia tampak mencari-cari beberapa saat di sekitar ruang kelas tersebut. Lalu masih dengan wajah agak bingung dan khawatir ia membuka pintu dan masuk ke dalam kelas. Jelas sekali bahwa ia sangat terkejut dan berusaha menyembunyikan keterkejutan dan kebingungannya. Kemudian dengan terbata-bata ia mulai berbicara, “Siapa yang mengantar kalian ke kelas ini?”
“Bukankah kau sendiri yang mengantar kami ke sini?” jawab Anne balas bertanya.
“Tentu bukan, jelas bukan aku. Katakan siapa yang mengantar kalian ke tempat ini? Apa kalian tidak mendengar instruksi kepala sekolah untuk mengikuti dewan sekolah yang ada di hadapan kalian?” tanya Emy lagi kali ini dengan nada agak kesal.
“Tapi kau sendiri yang menyuruh kami mengikutimu, berkenalan dengan kami bertiga dan—”, jawab Anne dengan nada yang sama karena mulai kesal.
“Sudah, Anne. Mungkin dia agak kurang sehat,” kata Peter.
“Ya, Emy, maksudku nona Emy, apa kau sudah lupa pada kami? Kau berjalan di depan kami dan menunjukkan kelas ini tadi,” tanya How.
 “Lihat ini, berapa lama kalian bersekolah disini hingga berani mengarang cerita bohong semacam itu? Tunggu sampai mrs.Demetra melihat ini, kata anak itu sambil menggiring Anne, Peter, dan Howard keluar dari kelas.
Tampaknya Emy yang mereka temui kali ini bukanlah orang yang sama atau paling tidak hanya memiliki sangat sedikit kemiripan pada sifat yang ia tunjukkan. Emy yang ini tampak lebih gembira daripada Emy yang mereka temui sebelumnya, bahkan ketika ia jengkel karena merasa ditipu. Sedangkan Emy sebelumnya tampak sangat bermasalah walaupun berusaha ramah kepada mereka. Emy yang ini juga tampak lebih cantik dengan rambut pirang panjangnya.
“Masuk!” perintah Emy saat mereka tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu tertutup.
Ketika mereka masuk ke dalamnya tampak seorang wanita tua sedang duduk di belakang sebuah meja kerja dengan seragam berwarna hitam yang tampak sangat mengerikan sekaligus bersahabat. Mereka dapat langsung menebak bahwa wanita itu adalah seorang guru BK atau bahkan kepala bagian kesiswaan di sekolah itu. Beberapa file manager tampak berjajar di sepanjang tepi meja kerjanya dan beberapa almari berisi file-file berjajar di dinding. Sebatang kayu kecil tergeletak di samping kanan meja, entah berfungsi sebagai apa.
Mrs. ada beberapa anak baru yang mulai bertingkah, hukuman apa yang cocok untuk mereka?” tanya Emy setelah mereka sampai tepat di depan meja kerja. “Mereka mengarang cerita bahwa aku yang telah mengantar mereka ke dalam kelas sementara aku dan teman-teman dewan sekolah lain sedang menyelesaikan pembagian penginapan.”
“Ku rasa kita tidak dapat menghukum mereka miss Ellison, jawab wanita tua itu.
“Astaga,” bisik Anne. “Ternyata dia bukan Emy.”
“Kenapa?”  tanya Ellison heran. Mrs. Demetra menunjuk batu permata yang tergantung di kalung mereka. “Saudara! Selamat datang! Apakah kalian telah bertemu Emilson? Ku rasa sudah karenalupakan!” Wajah gadis itu tiba-tiba berubah menjadi cerah.
“Miss, sebaiknya anda membawa mereka menghadap dewan sekolah,” usul Mrs. Demetra. “Dan sepertinya kita harus minta maaf pada seseorang.”
“Tentu, ayo ikuti aku, kata Ellison mulai berjalan keluar dari ruangan Mrs. Demetra.
Kali ini gadis di depan mereka berjalan dengan lebih-lebih santai dan dengan wajah sangat-sangat bahagia. Ia seperti seorang remaja yang baru saja memenangkan sebuah undian berhadiah untuk berbelanja gratis di fifth avenue dengan mengendarai limosin. Beberapa kali ia menengok ke arah Anne dan temannya lalu berkata ‘ayo cepat.’
“Hei Anne, bukankah orang ini mirip Emilson?” tanya Howard.
“Aku saudari kembarnya, kalian sudah bertemu dengannya bukan?” jawab Ellison.
“Ya,tadi waktu mencari kelas. Apa kau benar-benar saudari kembarnya? Karena kalian tidak begitu mirip,” tanya Peter.
Elly menganggukkan kepalanya. “Panggil saja aku Elly dan Emilson, Emy. Ayo, kita sudah hampir sampai,” katanya lagi. Kali ini mereka berbelok  ke sebuah lorong pendek yang menghubungkan bangunan sekolah dengan sebuah bangunan kecil bercat putih di tengah taman bunga. Dari kejauhan mereka dapat melihat sebuah tulisan di depan pintu bangunan itu yang berbunyi ‘kantor kepala sekolah’
“Ku rasa guru tadi menyebut dewan sekolah, bukan kepala sekolah,” kata How pucat.
Sepertinya kepala sekolah sedang berbincang dengan seseorang dan orang itu tampaknya adalah seorang gadis. Anne mengenali suara gadis itu sebagai suara Emy sedangkan dua anak lain mengatakan bahwa suara itu hanya mirip dengan suara Emy. Gadis itu sedang mendiskusikan sesuatu yang tampaknya berhubungan dengan pengasramaan karena beberapa kali ia menyebut asrama khusus dan asrama biasa. Sedangkan suara lain yang pastinya adalah suara kepala sekolah beberapa kali menyebut asrama lama dan asrama baru.
“Kakek! Lihat siapa yang aku bawa,” kata Elly sambil masuk ke kantor kepala sekolah.
Mereka bertiga mengikuti Elly memasuki kantor kepala sekolah. Suara gadis yang terdengar dari kejauhan semakin terdengar jelas dan kini mereka melihat sendiri siapa gadis itu. Di dalam ruangan tersebut, tepatnya di ruang tamu, duduk empat orang, tiga diantaranya adalah pria dan seorang gadis berjubah putih bersih. Salah seorang pria yang paling tua mereka kenali sebagai kepala sekolah yang memberikan pidato penyambutan pagi tadi sedangkan dua pria lain belum pernah mereka temui.
“Sekarang kalian dapat melihat sendiri siapa anak yang aku maksud,” kata gadis itu ketika melihat Elly dan ketiga anak itu masuk ke dalam kantor kepala sekolah.
“Oh, Emy menceritakannya tadi, tapi aku tidak percaya. Tapi kini aku percaya dengan ceritanya,” kata kepala sekolah sambil berdiri dan menghampiri ketiga anak yang baru datang.
“Jadi asrama khusus?” tanya Emy.
“Kita harus menunggu hasil tes besok siang, Emy,” jawab seorang pria.
“Ya, kalian selalu menunggu, menunggu, dan menunggu, sekalipun seseorang jelas akan mati,” komentar Emy sambil berdiri dan mulai berjalan pergi. “Jika ada yang membutuhkanku, aku ada di kelas 1E, maaf membuat kalian berada dalam masalah,” kata Emy sebelum pergi.
“Dia belum banyak berubah,” kata pria tadi lirih sambil terus mengawasi Emy yang berjalan menjauh. “Oh, bukankah kita harus memperkenalkan diri Norrin?” tanyanya kepada seorang pria lain yang duduk di sebelahnya. “Perkenalkan aku James Drakes dan ini adikku Norrin Drakes kami adalah guru seni pertahanan di sekolah ini,” kata pria pertama.
“Dan juga ayahku,” sambung Elly.
“Sekarang akan lebih baik bila kalian berempat kembali ke kelas kalian masing-masing, bukan?” tanya kepala sekolah. “Dan akan lebih baik bila kalian bergegas, karena penjelasan mengenai pembagian penginapan sementara dan berbagai hal lain sudah harus dimulai dua menit lagi bila kita ingin menepati jadwal yang telah dibuat.”
Dalam perjalanan kembali ke kelas mereka meributkan tentang asrama khusus dan asrama biasa. How berpendapat bahwa tinggal di asrama khusus adalah sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan kedua temannya yang sama sekali belum pernah mendengar hal-hal tentang sekolah tersebut berpendapat bahwa asrama khusus dan asrama biasa hanya sebutan untuk membedakan dua asrama yang berada di dua tempat yang berlainan dan sama sekali tidak berhubungan dengan mutu atau pelayanan yang diberikan. Tapi setelah How menjelaskan sedikit tentang sejarah sekolah itu, Anne mengubah pendapatnya tentang asrama khusus dan menyimpulkan bahwa mereka tidak mungkin masuk ke asrama khusus, setidaknya tidak dengan pengetahuan seminimal dan keadaan ekonomi mereka sekarang.
“Itu berarti kita tidak akan bersama teman-teman kita? Tapi mengapa?” tanya Peter heran.
“Kalian yang dipanggil dewan sekolah? Cepat masuk! Ada penjelasan penting,” kata seorang guru ketika mereka tiba di depan kelas mereka.

Selasa, 12 November 2013

Hallo...
Hari ini aku menyapamu dengan bunga krisan,
tapi besok
mungkin aku akan menyapamu dengan
kelopak bunga mawar
Hallo...
Hari ini mungkin aku hanya bisa tersenyum menyambut
suka cita hidup yang
kau tebarkan. Tapi besok
aku akan menjadi mentari yang mencintaimu
dan menghangatkanmu
dari beku
Dan memekarkan kelopak-kelopak mawar dan
krisan, agar
mereka terus bisa menyapamu
saat suaraku lenyap
menghilang

17 October 2013 

180 Days



 chapter 2 lanjutan
Beberapa meter ke arah selatan, Runi menemui gedung asrama putra yang terdiri dari dua bangunan. Gedung asrama putra pertama terletak tepat di sebelah selatan gedung asrama putri sedangkan gedung kedua berada di sebelah barat gedung pertama. Kedua gedung tersebut memiliki arsitektur yang sama. Menurut data yang Runi peroleh dari buku milik Leiny, Gerda aka Hitler dalam versi Leiny, tinggal di gedung pertama. Awalnya Runi ingin mampir dan melihat apakah ia bisa memperbaiki percakapan mereka yang kurang berhasil pagi tadi, tapi akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan berbelok ke arah kiri. Jika jalan yang ia lalui benar maka jalan tersebut akan mengantarkannya ke sebuah danau buatan.
Runi menghentikan perjalanannya di sebuah tempat yang menurut cerita Leiny bukanlah sebuah tempat yang begitu penting bagi warga sekolahnya. Tapi menurut Runi, tempat itu seharusnya menjadi tempat terpenting bagi sekolah tersebut. Bukan karena sekolahnya tidak memiliki danau, tapi karena menurut Runi danau itu memiliki keindahan alami diantara bangunan-bangunan bergaya modern. Seperti sebuah intan di antara serpihan kaca, berbeda, indah, dan menawan.
Danau buatan di sekolah Leiny memiliki air sejernih kaca dan dikelilingi oleh lapangan terbuka berumput pendek. Di sepanjang tepi jalan tempat Runi berdiri dipagari oleh jajaran pohon Ketapang yang cabang-cabangnya saling bertemu dan membentuk tajuk, seolah-olah memayungi jalan beraspal hitam di bawahnya. Tempat itu bagaikan surga, surga yang tak disadari oleh para penghuninya. Runi berharap waktu dapat berhenti sejenak agar ia dapat menikmati keindahan danau itu lebih lama lagi.
“Apa nilai begitu penting bagi mereka hingga tidak menyadari keindahan tampat ini?” gerutu Runi saat menengok ke belakang dan melihat banyak anak yang lebih suka menghabiskan waktu membaca di gedung galon air(ini adalah cara Runi menyebut gedung kantin) “Mereka, ckckck, duduk di dekat tempat yang begitu indah tapi sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari lembaran kertas berjilid,” gerutunya lagi saat menyadari jarak antara kantin dan tempat ia berdiri yang hanya beberapa meter. “Benar-benar jiwa yang malang,” katanya sambil melanjutkan perjalanan.
Runi kembali menyusuri sepanjang jalan beraspal dengan deretan pepohonan mahoni di sisi kiri dan pohon Ketapang di sisi kanan ke arah utara. Deretan pohon di sisi kirinya mulai merenggang dan membuka pemandangan ke arah lapangan upacara yang kini tengah di padati oleh sejumlah petugas upacara yang sedang mengadakan latihan untuk hari Senin. Setelah lapangan upacara tidak ada lagi pepohonan yang tumbuh karena di sebelah utara lapangan upacara, hanya berjarak beberapa meter, berdirilah auditorium yang terletak di sisi kiri pertigaan jalan. Runi berbelok kiri dan kini berjalan di antara gedung auditorium dan wisma guru berlantai sepuluh. Perjalanannya terus berlanjut.
Dari jalan di antara auditorium dan wisma guru, jalan kemudian bercabang ke empat arah. Arah utara akan membawa Runi kembali ke pintu gerbang, arah selatan akan membawa Runi kembali ke asrama Leiny, arah barat daya menuju ke deretan ruang kelas dan kompleks olahraga, dan arah tenggara adalah jalan yang baru saja ia lewati. Pilihan Runi jelas, arah barat daya. Gedung pertama yang ia temui dalam perjalanan kali ini adalah kantor administrasi di sisi kanan dan perpustakaan di sisi kiri. Setelah itu terhamparlah bangunan ruang kelas yang terdiri dari enam gedung di sisi kirinya dan kompleks olahraga yang terdiri dari gym, kolam renang, lapangan basket, dan lapangan sepak bola di sisi kananya.
“Sekolah mu punya dua kolam renang ya, Leiny? Tentu, salah satunya digunakan untuk berlomba bersama Saturnus,” gurau Runi menirukan logat Leiny. “Sekolah yang benar-benar luas, kaki ku, oh, pegal sekali. Lebih baik aku kembali ke asrama,” lanjut Runi saat menyadari rasa pegal mulai menyerang sekujur kakinya.
Runi berbalik dan kembali menuju perempatan untuk kembali ke asrama Leiny. Di sepanjang jalan ini, jalan yang ia lalui pagi tadi yang juga tidak terlalu ia hiraukan, terdapat Balairung yang terletak di sebelah selatan gedung perpustakaan. Lalu di sebelah selatan Balairung terdapat pusat keagamaan. Tempat berdirinya lima bangunan peribadatan dari lima agama besar yang diakui di negaranya. UKS, sebuah bangunan kecil dengan jasa yang besar, juga berada di jalur tersebut. Letaknya tepat di sebelah selatan lapangan upacara.
 “Kau darimana?” tanya Gerda yang sedang berada di sekitar pusat keagamaan dan bertemu dengan Runi yang kebetulan lewat di hadapannya.
“Aku baru saja menikmati indahnya dunia,” jawab Runi.
“Ada apa? Matahari terbit dari barat?” tanya Gerda retoris.
“Tidak,” jawab Runi sekenanya karena ia tidak memahami apa yang aneh dari jawaban pertamanya. “pagi tadi matahari masih terbit dari timur. Kenapa? Kau takut dunia berakhir sebelum kau mendapatkan gelar doktormu?”
“Gadis high profile low profit sepertimu akhirnya menyadari bahwa dunianya indah, jika bukan pertanda akhir zaman lalu apa?” kembali sebuah pertanyaan retoris dilontarkan oleh Gerda.
“Benar, maksudmu akhir zaman keemasan seorang Gerda Andika Putra bukan?” balas Runi. Ia baru menyadari bahwa Leiny mungkin sama dengan anak-anak lain di sekolah itu, tidak menyadari keindahan danau dan lingkungan sekolahnya.
“Baru saja aku bersyukur atas ketidak-connect-an mu pagi ini dan berharap syndrome aneh mu itu bertahan lebih lama, sepertinya aku harus menarik kembali ucapan syukur itu. Jangan lupa, besok ada rapat OSIS!”