1.
Permata kelima
“Sekolah ini didirikan lebih dari seratus tahun yang lalu.
Sejak saat itu sekolah ini memilih sendiri murid-muridnya. Setiap tahun sekolah
ini menerima sekitar 240 siswa dari seluruh dunia.
Kami ucapkan selamat kepada para siswa baru yang telah berhasil masuk ke
sekolah ini.” Tepuk tangan membahana dari seluruh peserta upacara. “Dan untuk
mengetahui kelas kalian masing-masing silahkan ikuti dewan sekolah yang ada di hadapan kalian. Selamat
datang di sekolah baru kalian!”
“Come on! Follow me! Kelas satu A di sebelah sini,” kata seorang gadis berjubah putih bersih yang entah datang
darimana. “Hai boleh berkenalan? Namaku Emilson panggil saja aku Emy,” katanya lagi sambil mengulurkan tangan ke arah tiga anak
yang berada di barisan paling depan.
“Aku Anne Pirch,” kata gadis berambut agak keriting.
“Kau?” tanyanya lagi.
“Peter,” jawab seorang anak laki-laki di samping Anne.
“Dan—”
“Howard,” jawab anak yang
berdiri paling ujung.
“Ku rasa kalian saling mengenal, benar?” tanya Emy.
“Ya, benar, kami dari satu negara,” jawab Howard.
“Walaupun sebenarnya baru berkenalan tadi,” komentar Anne.
“Bagus, persaudaraan perlu dijaga, dan kalian memiliki tiga
permata lain; biru, merah, dan hijau. Kau memiliki
permata hijau, Peter,” kata Emy setelah
memperhatikan liontin kalung milik ketiga anak itu.
“Ya, Ibuku memberikannya sebelum ia meninggal dunia.”
“Aku turut berduka,” kata gadis itu sambil berbelok ke sebuah lorong panjang. Ia terus
berjalan menyusuri lorong itu dengan cepat. Beberapa siswa lama tampak
memperhatikan rombongan mereka. “Ini
kelasnya,” katanya dengan tiba-tiba membuat beberapa anak terkejut. “Silahkan masuk,” lanjutnya sambil membukakan pintu. Setelah memastikan semua siswa masuk ia menutup pintu dan
pergi dengan sangat terburu-buru. Kurasa itulah satu-satunya alasannya meninggalkan kelas itu, kecuali bila ada alasan lain.
Kelas itu ramai sesaat. Karena ramainya bahkan orang-orang dapat mendengarnya dari kantor guru yang
berjarak puluhan meter dari tempat itu. Beberapa saat
kemudian Emy kembali, sejenak ia tampak mencari-cari beberapa saat di sekitar
ruang kelas tersebut. Lalu masih dengan wajah agak bingung dan khawatir ia
membuka pintu dan masuk ke dalam kelas. Jelas sekali bahwa ia sangat terkejut
dan berusaha menyembunyikan keterkejutan dan kebingungannya. Kemudian dengan
terbata-bata ia mulai berbicara, “Siapa yang mengantar kalian ke kelas ini?”
“Bukankah kau sendiri yang mengantar kami ke sini?” jawab Anne balas
bertanya.
“Tentu bukan, jelas bukan aku. Katakan siapa yang mengantar kalian ke
tempat ini? Apa kalian tidak mendengar instruksi kepala sekolah untuk mengikuti
dewan sekolah yang ada di hadapan kalian?” tanya Emy lagi kali ini dengan nada
agak kesal.
“Tapi kau sendiri yang menyuruh kami mengikutimu, berkenalan dengan kami
bertiga dan—”, jawab Anne dengan nada yang sama karena mulai kesal.
“Sudah, Anne. Mungkin dia agak kurang sehat,” kata Peter.
“Ya, Emy, maksudku nona Emy, apa kau sudah lupa pada kami? Kau berjalan di
depan kami dan menunjukkan kelas ini tadi,” tanya How.
“Lihat ini, berapa lama kalian bersekolah disini hingga berani mengarang cerita bohong semacam itu? Tunggu sampai mrs.Demetra melihat ini,” kata anak itu sambil menggiring Anne, Peter, dan Howard keluar dari kelas.
Tampaknya Emy yang mereka temui kali ini bukanlah orang yang sama atau
paling tidak hanya memiliki sangat sedikit kemiripan pada sifat yang ia tunjukkan.
Emy yang ini tampak lebih gembira daripada Emy yang mereka temui sebelumnya,
bahkan ketika ia jengkel karena merasa ditipu. Sedangkan Emy sebelumnya tampak
sangat bermasalah walaupun berusaha ramah kepada mereka. Emy yang ini juga
tampak lebih cantik dengan rambut pirang panjangnya.
“Masuk!” perintah Emy saat
mereka tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu tertutup.
Ketika mereka masuk ke dalamnya tampak seorang wanita tua sedang duduk di
belakang sebuah meja kerja dengan seragam berwarna hitam yang tampak sangat
mengerikan sekaligus bersahabat. Mereka dapat langsung menebak bahwa wanita itu
adalah seorang guru BK atau bahkan kepala bagian kesiswaan di sekolah itu.
Beberapa file manager tampak berjajar di sepanjang tepi meja kerjanya dan
beberapa almari berisi file-file berjajar di dinding. Sebatang kayu kecil
tergeletak di samping kanan meja, entah berfungsi sebagai apa.
“Mrs. ada beberapa anak baru yang mulai
bertingkah, hukuman apa yang cocok untuk mereka?” tanya Emy setelah mereka sampai tepat di depan meja kerja. “Mereka
mengarang cerita bahwa aku yang telah mengantar mereka ke dalam kelas sementara
aku dan teman-teman dewan sekolah lain sedang menyelesaikan pembagian
penginapan.”
“Ku rasa kita tidak dapat menghukum mereka miss Ellison,” jawab wanita tua itu.
“Astaga,” bisik Anne. “Ternyata dia bukan Emy.”
“Kenapa?” tanya Ellison heran. Mrs. Demetra menunjuk batu permata yang tergantung di
kalung mereka. “Saudara! Selamat datang! Apakah kalian telah bertemu Emilson?
Ku rasa sudah karena—lupakan!” Wajah gadis itu tiba-tiba berubah menjadi cerah.
“Miss, sebaiknya anda membawa mereka menghadap dewan
sekolah,” usul Mrs. Demetra. “Dan sepertinya kita harus minta maaf pada seseorang.”
“Tentu, ayo ikuti aku,” kata
Ellison mulai berjalan keluar dari ruangan Mrs. Demetra.
Kali ini gadis di depan mereka berjalan dengan lebih-lebih santai dan
dengan wajah sangat-sangat bahagia. Ia seperti seorang remaja yang baru saja
memenangkan sebuah undian berhadiah untuk berbelanja gratis di fifth avenue
dengan mengendarai limosin. Beberapa kali ia menengok ke arah Anne dan temannya
lalu berkata ‘ayo cepat.’
“Hei Anne, bukankah orang ini mirip Emilson?” tanya Howard.
“Aku saudari kembarnya, kalian sudah bertemu dengannya bukan?” jawab Ellison.
“Ya,tadi waktu mencari kelas. Apa kau benar-benar saudari kembarnya? Karena
kalian tidak begitu mirip,” tanya Peter.
Elly menganggukkan kepalanya. “Panggil saja aku Elly dan Emilson, Emy. Ayo,
kita sudah hampir sampai,” katanya lagi. Kali ini mereka berbelok ke sebuah lorong pendek yang menghubungkan bangunan
sekolah dengan sebuah bangunan kecil bercat putih di tengah taman bunga. Dari
kejauhan mereka dapat melihat sebuah tulisan di depan pintu bangunan itu yang
berbunyi ‘kantor kepala sekolah’
“Ku rasa guru tadi menyebut dewan sekolah, bukan kepala
sekolah,” kata How pucat.
Sepertinya kepala sekolah sedang berbincang dengan seseorang dan orang itu
tampaknya adalah seorang gadis. Anne mengenali suara gadis itu sebagai suara Emy
sedangkan dua anak lain mengatakan bahwa suara itu hanya mirip dengan suara Emy.
Gadis itu sedang mendiskusikan sesuatu yang tampaknya berhubungan dengan pengasramaan
karena beberapa kali ia menyebut asrama khusus dan asrama biasa. Sedangkan
suara lain yang pastinya adalah suara kepala sekolah beberapa kali menyebut
asrama lama dan asrama baru.
“Kakek! Lihat siapa yang aku bawa,” kata Elly sambil masuk ke kantor
kepala sekolah.
Mereka bertiga mengikuti Elly memasuki kantor kepala sekolah. Suara gadis
yang terdengar dari kejauhan semakin terdengar jelas dan kini mereka melihat
sendiri siapa gadis itu. Di dalam ruangan tersebut, tepatnya di ruang tamu, duduk empat orang,
tiga diantaranya adalah pria dan seorang gadis berjubah putih bersih. Salah
seorang pria yang paling tua mereka kenali sebagai kepala sekolah yang
memberikan pidato penyambutan pagi tadi sedangkan dua pria lain belum pernah
mereka temui.
“Sekarang kalian dapat melihat sendiri siapa anak yang aku maksud,” kata
gadis itu ketika melihat Elly dan ketiga anak itu masuk ke dalam kantor kepala
sekolah.
“Oh, Emy menceritakannya tadi, tapi aku tidak percaya. Tapi kini aku
percaya dengan ceritanya,” kata kepala sekolah
sambil berdiri dan menghampiri ketiga anak yang baru datang.
“Jadi asrama khusus?” tanya Emy.
“Kita harus menunggu hasil tes besok siang, Emy,” jawab seorang pria.
“Ya, kalian selalu menunggu, menunggu, dan menunggu, sekalipun seseorang
jelas akan mati,” komentar Emy sambil berdiri dan mulai berjalan pergi. “Jika
ada yang membutuhkanku, aku ada di kelas 1E, maaf membuat kalian berada dalam
masalah,” kata Emy sebelum pergi.
“Dia belum banyak berubah,” kata pria tadi lirih sambil terus mengawasi Emy
yang berjalan menjauh. “Oh, bukankah kita harus memperkenalkan diri Norrin?”
tanyanya kepada seorang pria lain yang duduk di sebelahnya. “Perkenalkan aku
James Drakes dan ini adikku Norrin Drakes kami adalah guru seni pertahanan di
sekolah ini,” kata pria pertama.
“Dan juga ayahku,” sambung Elly.
“Sekarang akan lebih baik bila kalian berempat kembali ke kelas kalian
masing-masing, bukan?” tanya kepala sekolah. “Dan akan lebih baik bila kalian
bergegas, karena penjelasan mengenai pembagian penginapan sementara dan
berbagai hal lain sudah harus dimulai dua menit lagi bila kita ingin menepati
jadwal yang telah dibuat.”
Dalam perjalanan kembali ke kelas mereka meributkan tentang asrama khusus dan asrama biasa. How berpendapat bahwa tinggal di asrama khusus adalah
sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan kedua temannya yang sama sekali belum
pernah mendengar hal-hal tentang sekolah tersebut berpendapat bahwa asrama
khusus dan asrama biasa hanya sebutan untuk membedakan dua asrama yang berada
di dua tempat yang berlainan dan sama sekali tidak berhubungan dengan mutu atau
pelayanan yang diberikan. Tapi setelah How menjelaskan sedikit tentang sejarah
sekolah itu, Anne mengubah pendapatnya tentang asrama khusus dan menyimpulkan
bahwa mereka tidak mungkin masuk ke asrama khusus, setidaknya tidak dengan
pengetahuan seminimal dan keadaan ekonomi mereka sekarang.
“Itu berarti kita tidak akan bersama teman-teman kita?
Tapi mengapa?” tanya Peter heran.
“Kalian yang dipanggil dewan sekolah? Cepat masuk! Ada
penjelasan penting,” kata seorang guru ketika mereka tiba di
depan kelas mereka.