Sabtu, 29 Juni 2013

OUTLYING

Part 1. Back to school
Seorang gadis berjalan dengan cepat di sebuah bandara di kota Chicago. Rambut emo-orange-terangnya menjuntai indah dari atas bahunya. Di tangan kanannya terdapat sebuah koper besar berwarna hitam pekat dan di punggungnya bergantunglah sebuah ransel berwarna biru gelap. Ia berjalan dengan cukup cepat melintasi barisan-barisan loket penjuaalan tiket pesawat. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya ia berhenti di depan sebuah loket penjualan tiket yang memajang plakat bertuliskan ‘Walkerin Airlines’ yang besar dan artistik. Gadis itu langsung memesan sebuah tiket kepada petugas penjaga loket itu(kebetulan sekali saat itu tak ada antrian di depan loket).
“Tujuan anda?” tanya petugas itu.
“Zephiriné Drouhin, New York?” jawab sang gadis.
“Apa kau membawa surat keterangan dari sekolahmu?” tanya petugas lagi.
“Ya, tentu saja,” jawab sang gadis sambil memberikan selembar kertas berwarna merah.
Sesaat kemudian sang petugas menulis di atas sebuah tiket yang juga berwarna merah dan memberikannya kepada sang gadis. “Selamat menikmati perjalanan anda,” ucap petugas itu ramah.
Begitu mendapatkan tiketnya gadis itu langsung meninggalkan loket tersebut dan kembali berjalan dengan cepat menuju ke sebuah toilet. Tak lebih dari seperempat menit kemudian gadis itu telah keluar dari dalam toilet dengan warna dan model rambut berbeda. Rambutnya yang sebelumnya berwarna orange itu sekarang berubah menjadi hitam sempurna, persis sama dengan warna kopernya. Dalam beberapa menit kemudian gadis itu telah tiba di tempat check in bandara. Seorang petugas dari Walkerin Airlines memintanya menunjukkan kartu tanda pelajar miliknya sebelum menyerahkan boarding pass.
Begitu selesai melewati prosedural check in yang cukup rumit itu sang gadis langsung menuju ke waiting room yang telah diberitahukan kepadanya oleh petugas tadi. Pesawat yang akan ia tumpangi adalah pesawat khusus yang akan mengantarkannya kembali ke sekolahnya yang terletak di daerah New York. Perusahaan jasa penerbangan ini berada di bawah naungan Walker Incorporated. Sebuah perusahaan raksasa milik keluarga Walker yang bergerak di bidang perhotelan, pariwisata dan transportasi umum. Menurut info yang di ketahui oleh sang gadis, calon pewaris perusahaan raksasa tersebut kini sedang belajar di sebuah sekolah yang merupakan saingan dari sekolahnya yaitu Lamppole School.
Kembali lagi ke gadis tadi yang saat ini telah tiba di sebuah bandara di kota New York. Tanpa dikomando gadis tersebut langsung menuju ke sebuah bis berwarna hitam yang telah terparkir di depan bandara. Bis itu juga dihiasi oleh atribut huruf ‘W’ yang juga sangat artistik. Saat akan masuk ke dalam bis gadis itu bertemu dengan seorang pria yang tampaknya merupakan petugas pemeriksa tiket. Pria itu menggunakan baju putih bersih dan sebuah dasi hitam yang sepertinya terbuat dari bahan yang bermutu tinggi. Petugas itu tersenyum ramah dan menanyakan tiket milik si gadis.
“Adelaide Mc.Cordy, Zephiriné Drouhin,” ucap gadis itu sambil menyerahkan tiketnya.
“Selamat datang,” ucap petugas itu masih tetap seramah tadi. “Apa anda membawa barang-barang lain?”
“ Ya, tapi sudah dikirim melalui paket khusus,” jawab gadis bernama Adelaide itu sambil naik ke atas bis.
Bis tersebut mulai bergerak meninggalkan bandara tak lama setelah ia duduk di salah satu bangku penumpang. Well, gadis ini adalah siswa sebuah sekolah sihir bernama Zephiriné Drouhin School—atau seringkali disingkat ZDS—yang baru kembali dari studinya di Chicago. Di sekolah tersebut tiap siswa diwajibkan mengikuti studi di sekolah umum dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan non-sihir yang tidak diajarkan di sekolah sihir tersebut. Berbeda dengan Lamppole School(sekolah sihir lain yang ada di New York) yang telah memadukan pelajaran sihir dan non-sihir secara bersamaan sehingga para siswanya tidak perlu keluar dari sekolah untuk bersekolah di sekolah umum.
Sudah hampir sejam berlalu, sekarang bis yang ia tumpangi berbelok memasuki daerah pedesaan. Sekarang ia dapat melihat sekolahnya dengan jelas. Bangunan itu berdiri dengan megahnya. Dari luar tampak seperti kastil kuno di kawasan Eropa. Bangunan sekolah ini dulu disebut Kastil Hitam karena saat pertama kali dibangun memang berwarna hitam untuk menyamarkan keberadaannya. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan di dunia sihir, kini bangunan sekolah tersebut sudah tidak berwarna hitam lagi dan dibuat semirip mungkin dengan sekolah biasa—walaupun pada akhirnya juga tak bisa sangat mirip dengan sekolah pada umumnya. Di sekitar sekolah adalah daerah pedesaan tempat tinggal manusia yang sedang belajar sihir(di asrama milik sekolah), manusia biasa yang tidak menguasai sihir, kaum dwarf, kaum centaurus, dan—mungkin—kaum kaum lainnya.
Di tepi jalan yang ia lewati berjajarlah toko roti dan makanan kecil milik penduduk desa disekitar sekolah. Tepat di sampingnya berdirilah sebuah kedai kecil, tempat para Dwarf, penduduk desa, siswa ZDS atau bahkan Centaurus menghabiskan waktu makan siangnya. Di kiri jalan terhampar sebuah lapangan hijau yang luas. Di dekat lapangan itu terdapat sebuah bangunan dengan halaman yang lumayan luas dan dipenuhi oleh beberapa macam tumbuhan, itulah Balai Desa.
Kini bis tersebut tiba di bagian jalan yang bercabang menjadi tujuh. Sebuah tikungan dari persimpangan itu berbelok ke arah tenggara dan akan membawamu menuju ke LS(Lamppole School). Tiga tikungan lain masing-masing ke arah barat, barat daya dan selatan akan membawamu menuju ke desa-desa lain yang berdekatan dengan desa tersebut. Sedangkan jalan yang menuju ke arah utara menuju ke sebuah hutan yang sangat lebat, tempat bermukimnya suku centaurus hutan utara dan centaurus lainnya—meskipun mereka sering datang ke desa tapi rumah asli mereka berada di hutan. Jalan terakhir menuju ke arah timur laut adalah jalan yang menuju ke asrama penginapan bagi anak laki-laki lebih jauh lagi jalan itu adalah jalan lain yang menuju ke New York selain jalan ke arah timur(jalan yang baru saja dilewati oleh Adelaide).
Pada persimpangan ini bis yang ditumpangi oleh Adelaide lurus ke  arah barat  mata angin, kemudian berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah yang merupakan sekolah Adelaide. Bangunan ini memiliki dua buah pintu masuk, satu berada di sisi timur(menghadap langsung ke jalan allas yang menuju ke hutan), satu lagi berada di sisi selatan dan menghadap langsung ke jalan seyboull. Gadis itu pun bergegas turun dari dalam bis. Tanpa keraguan sedikitpun ia kemudian melangkah memasuki pintu gerbang(yang berada di sisi selatan. Selanjutnya akan disebut pintu selatan) sekolahnya.
Ada sebuah atmosfir yang berbeda di sekitar komplek sekolah itu. Atmosfir itu sedikit lebih gelap dan tenang, berbeda dengan atmosfir yang ia rasakan ketika tiba di desa yang umumnya lebih ringan dan ceria. Begitu ia memasuki gerbang, ia disambut oleh pemandangan hijau rumput yang terhampar luas di lapangan sekolah. Lapangan itu—mungkin—seluas lapangan sepakbola atau lebih luas lagi. Di tempat itulah terdapat aktivitas beberapa anak yang tampaknya sedang belajar mengenal lingkungan sekolah tersebut(mereka adalah siswa baru yang sedang mengikuti masa orientasi sekolah). Ada juga kelompok siswa—Adelaide dapat memastikan bahwa salah satu dari siswa itu adalah teman setingkatnya—yang sedang bermain menggunakan semacam papan snowboard yang diterbangkan menggunakan sihir. Di sisi jauh lapangan terdapat bangunan Zephiriné Drouhin yang berdiri angkuh berusaha mempertahankan prestise yang ia miliki dari perubahan jaman.
Tanpa disadari oleh Adelaide, ada seorang siswa yang mendekatinya. Setelah merasa cukup dekat siswa itu berkata, “Jika kau siswa baru ikuti aku,” dengan nada yang cukup ramah tapi cenderung terkesan sedikit sombong.
“Well, jadi, kau Arestian?” tanya Adelaide sebagai jawaban.
“Ya,” jawab anak itu cepat. “Itu sebutan untuk anggota Dewan Keamanan.”
“Ya, aku tahu,” kata Adelaide sambil mengangkat tangan kanannya(seperti akan mendorong sesuatu) dan secara tiba-tiba muncul sebuah kartu kecil berwarna merah tua dengan sebuah foto kecil di sudutnya.
“Coba lihat ini,” ucap Adelaide sambil memperlihatkan kartu itu. “Aku sudah belajar di sini selama hampir tujuh tahun. Mustahil aku tak tahu mengenai Arestian kan?”
“Maaf, kalau begitu. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau siswa disini,” ucap siswa itu.
Tidak apa-apa,” jawab Adelaide.
Siswa itu kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Adelaide dengan cepat. Ia menggunakan sebuah sihir untuk melakukan hal itu.