Senin, 30 Desember 2013

180 Days



Chapter 3 Step 1
Hari pertama sekolah bagi Runi tidak diwarnai oleh kecelakaan yang sebenarnya sangat mungkin terjadi pada gadis sepertinya. Ia tidak terlambat bangun, tidak terlambat mengikuti senam pagi, tidak terlambat datang ke kantin, dan yang lebih menggembirakan ia berhasil memakai seragam Leiny dengan rapi. Ia juga dengan mudah dapat menemukan buku-buku pelajaran Leiny yang menjadi pelajaran hari itu(meja belajar Leiny sangat rapi). Tidak seperti di sekolahnya, di sekolah Leiny pelajaran langsung dimulai pada hari pertama sehingga jadwal pelajaran sudah harus diterima siswa paling lambat pada malam hari pertama mereka kembali ke asrama. Selain itu, sekolah Leiny menggunakan sistem moving class yang berarti ia akan memiliki teman sekelas yang berbeda untuk tiap mata pelajarannya, yang juga berarti ia memiliki kesempatan untuk berada di kelas yang sama dengan anak-anak dari jurusan IPA.
Jam pertama hari Senin, seperti biasa adalah upacara bendera. Runi sangat bersemangat mengikuti upacara ini, bukan karena ia tidak pernah mengikuti upacara bendera sebelumnya, tapi karena ia tahu upacara bendera hari itu akan berbeda. Perbedaan yang pertama adalah upacara tersebut dilaksanakan di sebuah sekolah semi militer. Perbedaan yang kedua, upacara tersebut akan diiringi oleh marching band dan pastinya regu paduan suara berkualitas. Walaupun Leiny terdaftar sebagai regu paduan suara, Runi sendiri tidak akan menjadi regu paduan suara karena masa bakti Leiny telah selesai semester lalu. Perbedaan yang ketiga, upacara itu diikuti oleh siswa yang keseluruhannya berpotongan bros dan siswi yang hampir semuanya berambut pendek atau bersanggul. Perbedaan yang terakhir itu adalah ciri khas sekolah, potongan rambut. Semua siswa harus berpotongan rambut bros tanpa terkecuali dan semua siswi berambut panjang harus menyanggul rambutnya serta mengenakan jaring rambut agar rapi, tidak boleh ada ekor kuda, sehingga mereka yang rambutnya tidak dapat disanggul sederhana harus memotong pendek rambut mereka.
Ketika upacara baru saja dimulai, Runi langsung dapat merasakan khidmatnya upacara dan perasaan yang hanya bisa ia rasakan saat upacara peringatan hari kemerdekaan. Bahkan perasaan yang ia rasakan saat ini lebih kuat dari perasaan yang biasa ia rasakan pada perayaan hari kemerdekaan di wilayah kecamatannya. Rasanya berbeda, sangat membanggakan, dan sangat tidak bisa ia gambarkan. Upacara ini tentu sangat mustahil untuk dibandingkan dengan upacara di sekolahnya(akan diceritakan untuk bagian Leiny), tidak ada suara yang terdengar selain suara desauan angin, aba-aba pemimpin upacara, lagu kebangsaan, dan derap langkah pasukan pengibar bendera. Tidak ada yang mengulum senyum, tidak ada perbincangan, tidak ada suara sobekan bungkus permen, dan terlebih lagi, tidak ada yang terlambat. Mungkin karena perbedaan yang sangat mencolok itu, Runi sempat menitikkan air mata, air mata gembira karena sekali dalam seumur hidupnya ia pernah berdiri di tengah upacara bendera yang sesungguhnya.
Leiny, sama seperti Runi, memilih jurusan IPS, jurusan yang menurut banyak orang adalah jurusan nomor dua. Tapi pilihan jurusan Leiny pulahlah yang membuatnya kini dapat menggantikan saudari kembarnya itu. Oleh karena itu kemungkinan Runi akan bertemu dengan Gerda dalam kelas yang sama menjadi semakin terbatas. Meskipun demikian, Runi juga tidak yakin bahwa ia sama sekali tidak akan bertemu dengan Gerda, karena ia sendiri tidak tahu bagaimana sistem pembagian kelas di sekolah Leiny. Jadwal pelajaran untuk hari pertama adalah sejarah dengan guru bapak Harfan(guru yang menyapa Runi pada hari pertama), sosiologi, matematika dan Bahasa Inggris. Dari jadwal tersebut yang memungkinkan Runi untuk sekelas dengan Gerda hanya pada mata pelajaran Bahasa Inggris, dan memang pada kelas itulah mereka bertemu hari itu.
Dalam sekolah yang menggunakan sistem moving class seperti sekolah Leiny, tiap guru memiliki sebuah ruang belajar tersendiri. Oleh karena itu setiap pergantian pelajaran Runi dan siswa lain tentunya, harus keluar dari kelas sebelumnya dan berjalan menuju kelas selanjutnya. Awalnya Runi berpikir karena tiap pelajaran memiliki kelas yang berbeda maka ia akan berada dalam kelas dengan dekorasi yang berbeda tiap pelajarannya. Ternyata ia salah, karena saat memasuki kelas sosiologi ia melihat kesamaan antara kelas tersebut dengan kelas sejarah: dinding bercat putih, jendela tinggi, lampu penerangan yang menyilaukan mata, whiteboard seputih kapas, lantai keramik selicin marmer, air conditioner, pintu tertutup, dan ruang kelas kedap suara. Sebuah ruangan yang menurut Runi lebih tepat disebut ruang isolasi orang berpenyakit jiwa daripada ruang kelas.
Setelah semua pelajaran usai pada pukul 01.30, Runi memutuskan untuk kembali ke asrama dan mengembalikan alat sekolahnya sebelum pergi ke kantin untuk makan siang. Ia merasa seluruh tenaganya telah ia gunakan dan kini tak ada setengah horse power-pun tenaga yang tersisa. Lagipula masih ada waktu setengah jam sebelum waktu jam makan siang tiba. Mungkin saja ia bisa merebahkan tubuhnya sejenak di kasur Leiny yang empuk dan menjaga matanya tidak terpejam karena jika sampai ia tertidur dan melewatkan makan siang maka ia harus berpuasa hingga jam makan malam tiba. Ini adalah salah satu peraturan unik lain dari sekolah Leiny: tidak ada makanan kecuali pada jam makan. Maka disanalah Runi mengakhiri perjalanan hari pertamanya, kamar Leiny.
Runi membuka matanya, sebuah atap plafon putih menyambutnya. Ada suasana malas yang menyelimutinya dengan sangat ramah sebelum ia mengangkat tangan kanannya dan melihat jarum jam tangannya membentuk sudut siku-siku tepat di angka tiga. Runi melompat dari tempat tidur, meraih tas sekolah, dan berlari keluar kamar. Sekarang ia benar-benar TERLAMBAT untuk menghadiri rapat OSIS dan dapat dipastikan akan mendapat retorika buruk dari Gerda.
“What are you thinking about, oh stupid girl!” gerutunya sambil berlari sekencang-kencangnya ke arah gedung pusat kegiatan siswa. “Ruang OSIS, dimana ruang OSIS,” katanya sambil membaca keterangan tiap ruang yang ia lewati.
“Maaf, aku ter—” teriak Runi sambil mendorong pintu ruang OSIS sekuatnya. Kini seisi ruangan telah mengalihkan perhatian mereka dari seorang siswa di depan ruangan ke arahnya. “lambat, sangat terlambat. Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf!”
“Budaya buruk bangsa yang menyebabkan negara sekaya Indonesia tidak maju,” gerutu seorang siswi bernama Melaine. “Keterlaluan, terlambat hampir setengah jam.”
“Bukankah aku sudah minta maaf?” tanya Runi sambil mencari tempat duduk yang kosong.
“Semudah itukah memperbaiki sebuah kesalahan?” kata Melaine lagi. “Apakah itu berarti kita tidak butuh pengadilan?”
“Kenapa? Apakah kau takut cita-citamu menjadi seorang makelar kasus tidak tercapai?” balas Runi pedas.
“Setelah ini yang berisik silahkan keluar!” kata Gerda memperingatkan dari depan ruangan.
“Benar, kita tidak seharusnya berdebat seperti orang yang tidak berpendidikan. Bukankah sekolah kita yang terbaik dalam hal debat? Bagaimana bisa ada pendebat kusir yang—”
“Ssst, berisik sekali!” hardik Runi.
“Jangan memotong perkataanku, apa kau tidak pernah mengikuti kelas debat? Kenapa memotong pembicaraan orang se—” kata Melaine mulai gusar.
“Ketua dia berisik, kita keluarkan saja dia,” potong Runi lagi.
“Apa maksudmu? Aku sedang bicara dan kau yang memotong ku, kenapa jadi aku—”
“Ssst, ini rapat OSIS!” potong Runi lagi seolah-olah tidak mengetahui subyek pembicaraan Melaine.
Akhirnya Melaine menyerah dan menghentikan perdebatan tersebut karena ia tahu bahwa semakin ia mendebat Runi semakin ia akan tampak konyol di hadapan teman-temannya. Setelah kejadian tersebut tidak ada lagi kejadian lain yang menganggu jalannya rapat. Total keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk melangsungkan rapat OSIS hari itu adalah satu jam, setengah jam dengan kehadiran sekretaris umum dan setengah jam tanpa kehadirannya. Aneh memang, tapi Runi tidak terlalu memusingkanya. Ia lebih berkosentrasi pada perutnya yang kini tengah memainkan lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ dengan tempo cepat dan lebih bersemangat dari marching band sekolah Leiny. Runi kelaparan. Karena itu saat Gerda menutup rapat, ia nyaris melakukan sujud syukur, walaupun ia tahu ia tetap tidak akan mendapat makanan setelah rapat selesai.
“Selamat atas IESO-nya ya,” kata Runi saat keluar dari ruang rapat bersama Gerda. “Kau hebat.”
“Mau memuji agar tidak dapat hukuman? Rapat yang tadi, buat laporannya!” perintah Gerda tanpa menggubris ucapan selamat dari Runi.
“Tapi, aku hanya mengikuti rapat setengah jam terakhir,” protes Runi.
“Karena itulah aku ingin kau yang membuatnya. Anggap saja itu sebagai hukuman,” kata Gerda sambil berjalan meninggalkan ruang OSIS.