Chapter 3 Step 1
Hari pertama sekolah bagi Runi tidak diwarnai oleh kecelakaan yang
sebenarnya sangat mungkin terjadi pada gadis sepertinya. Ia tidak terlambat
bangun, tidak terlambat mengikuti senam pagi, tidak terlambat datang ke kantin,
dan yang lebih menggembirakan ia berhasil memakai seragam Leiny dengan rapi. Ia
juga dengan mudah dapat menemukan buku-buku pelajaran Leiny yang menjadi pelajaran
hari itu(meja belajar Leiny sangat rapi). Tidak seperti di sekolahnya, di
sekolah Leiny pelajaran langsung dimulai pada hari pertama sehingga jadwal
pelajaran sudah harus diterima siswa paling lambat pada malam hari pertama
mereka kembali ke asrama. Selain itu, sekolah Leiny menggunakan sistem moving
class yang berarti ia akan memiliki teman sekelas yang berbeda untuk tiap mata
pelajarannya, yang juga berarti ia memiliki kesempatan untuk berada di kelas
yang sama dengan anak-anak dari jurusan IPA.
Jam pertama hari Senin, seperti biasa adalah upacara bendera. Runi sangat
bersemangat mengikuti upacara ini, bukan karena ia tidak pernah mengikuti
upacara bendera sebelumnya, tapi karena ia tahu upacara bendera hari itu akan
berbeda. Perbedaan yang pertama adalah upacara tersebut dilaksanakan di sebuah
sekolah semi militer. Perbedaan yang kedua, upacara tersebut akan diiringi oleh
marching band dan pastinya regu paduan suara berkualitas. Walaupun Leiny
terdaftar sebagai regu paduan suara, Runi sendiri tidak akan menjadi regu
paduan suara karena masa bakti Leiny telah selesai semester lalu. Perbedaan
yang ketiga, upacara itu diikuti oleh siswa yang keseluruhannya berpotongan
bros dan siswi yang hampir semuanya berambut pendek atau bersanggul. Perbedaan
yang terakhir itu adalah ciri khas sekolah, potongan rambut. Semua siswa harus
berpotongan rambut bros tanpa terkecuali dan semua siswi berambut panjang harus
menyanggul rambutnya serta mengenakan jaring rambut agar rapi, tidak boleh ada
ekor kuda, sehingga mereka yang rambutnya tidak dapat disanggul sederhana harus
memotong pendek rambut mereka.
Ketika upacara baru saja dimulai, Runi langsung dapat merasakan khidmatnya
upacara dan perasaan yang hanya bisa ia rasakan saat upacara peringatan hari kemerdekaan.
Bahkan perasaan yang ia rasakan saat ini lebih kuat dari perasaan yang biasa ia
rasakan pada perayaan hari kemerdekaan di wilayah kecamatannya. Rasanya
berbeda, sangat membanggakan, dan sangat tidak bisa ia gambarkan. Upacara ini
tentu sangat mustahil untuk dibandingkan dengan upacara di sekolahnya(akan
diceritakan untuk bagian Leiny), tidak ada suara yang terdengar selain suara
desauan angin, aba-aba pemimpin upacara, lagu kebangsaan, dan derap langkah
pasukan pengibar bendera. Tidak ada yang mengulum senyum, tidak ada
perbincangan, tidak ada suara sobekan bungkus permen, dan terlebih lagi, tidak
ada yang terlambat. Mungkin karena perbedaan yang sangat mencolok itu, Runi
sempat menitikkan air mata, air mata gembira karena sekali dalam seumur hidupnya
ia pernah berdiri di tengah upacara bendera yang sesungguhnya.
Leiny, sama seperti Runi, memilih jurusan IPS, jurusan yang menurut banyak
orang adalah jurusan nomor dua. Tapi pilihan jurusan Leiny pulahlah yang
membuatnya kini dapat menggantikan saudari kembarnya itu. Oleh karena itu
kemungkinan Runi akan bertemu dengan Gerda dalam kelas yang sama menjadi
semakin terbatas. Meskipun demikian, Runi juga tidak yakin bahwa ia sama sekali
tidak akan bertemu dengan Gerda, karena ia sendiri tidak tahu bagaimana sistem
pembagian kelas di sekolah Leiny. Jadwal pelajaran untuk hari pertama adalah
sejarah dengan guru bapak Harfan(guru yang menyapa Runi pada hari pertama),
sosiologi, matematika dan Bahasa Inggris. Dari jadwal tersebut yang
memungkinkan Runi untuk sekelas dengan Gerda hanya pada mata pelajaran Bahasa
Inggris, dan memang pada kelas itulah mereka bertemu hari itu.
Dalam sekolah yang menggunakan sistem moving class seperti sekolah Leiny,
tiap guru memiliki sebuah ruang belajar tersendiri. Oleh karena itu setiap
pergantian pelajaran Runi dan siswa lain tentunya, harus keluar dari kelas
sebelumnya dan berjalan menuju kelas selanjutnya. Awalnya Runi berpikir karena
tiap pelajaran memiliki kelas yang berbeda maka ia akan berada dalam kelas
dengan dekorasi yang berbeda tiap pelajarannya. Ternyata ia salah, karena saat
memasuki kelas sosiologi ia melihat kesamaan antara kelas tersebut dengan kelas
sejarah: dinding bercat putih, jendela tinggi, lampu penerangan yang
menyilaukan mata, whiteboard seputih kapas, lantai keramik selicin marmer, air
conditioner, pintu tertutup, dan ruang kelas kedap suara. Sebuah ruangan yang
menurut Runi lebih tepat disebut ruang isolasi orang berpenyakit jiwa daripada
ruang kelas.
Setelah semua pelajaran usai pada pukul 01.30, Runi memutuskan untuk
kembali ke asrama dan mengembalikan alat sekolahnya sebelum pergi ke kantin
untuk makan siang. Ia merasa seluruh tenaganya telah ia gunakan dan kini tak
ada setengah horse power-pun tenaga yang tersisa. Lagipula masih ada waktu
setengah jam sebelum waktu jam makan siang tiba. Mungkin saja ia bisa
merebahkan tubuhnya sejenak di kasur Leiny yang empuk dan menjaga matanya tidak
terpejam karena jika sampai ia tertidur dan melewatkan makan siang maka ia
harus berpuasa hingga jam makan malam tiba. Ini adalah salah satu peraturan
unik lain dari sekolah Leiny: tidak ada makanan kecuali pada jam makan. Maka
disanalah Runi mengakhiri perjalanan hari pertamanya, kamar Leiny.
Runi membuka matanya, sebuah atap plafon putih menyambutnya. Ada suasana
malas yang menyelimutinya dengan sangat ramah sebelum ia mengangkat tangan kanannya
dan melihat jarum jam tangannya membentuk sudut siku-siku tepat di angka tiga.
Runi melompat dari tempat tidur, meraih tas sekolah, dan berlari keluar kamar.
Sekarang ia benar-benar TERLAMBAT untuk menghadiri rapat OSIS dan dapat
dipastikan akan mendapat retorika buruk dari Gerda.
“What are you thinking about, oh stupid girl!” gerutunya sambil berlari
sekencang-kencangnya ke arah gedung pusat kegiatan siswa. “Ruang OSIS, dimana
ruang OSIS,” katanya sambil membaca keterangan tiap ruang yang ia lewati.
“Maaf, aku ter—” teriak Runi sambil mendorong pintu ruang OSIS sekuatnya.
Kini seisi ruangan telah mengalihkan perhatian mereka dari seorang siswa di
depan ruangan ke arahnya. “lambat, sangat terlambat. Maafkan aku! Aku
benar-benar minta maaf!”
“Budaya buruk bangsa yang menyebabkan negara sekaya Indonesia tidak maju,”
gerutu seorang siswi bernama Melaine. “Keterlaluan, terlambat hampir setengah
jam.”
“Bukankah aku sudah minta maaf?” tanya Runi sambil mencari tempat duduk
yang kosong.
“Semudah itukah memperbaiki sebuah kesalahan?” kata Melaine lagi. “Apakah
itu berarti kita tidak butuh pengadilan?”
“Kenapa? Apakah kau takut cita-citamu menjadi seorang makelar kasus tidak
tercapai?” balas Runi pedas.
“Setelah ini yang berisik silahkan keluar!” kata Gerda memperingatkan dari
depan ruangan.
“Benar, kita tidak seharusnya berdebat seperti orang yang tidak
berpendidikan. Bukankah sekolah kita yang terbaik dalam hal debat? Bagaimana
bisa ada pendebat kusir yang—”
“Ssst, berisik sekali!” hardik Runi.
“Jangan memotong perkataanku, apa kau tidak pernah mengikuti kelas debat?
Kenapa memotong pembicaraan orang se—” kata Melaine mulai gusar.
“Ketua dia berisik, kita keluarkan saja dia,” potong Runi lagi.
“Apa maksudmu? Aku sedang bicara dan kau yang memotong ku, kenapa jadi
aku—”
“Ssst, ini rapat OSIS!” potong Runi lagi seolah-olah tidak mengetahui
subyek pembicaraan Melaine.
Akhirnya Melaine menyerah dan menghentikan perdebatan tersebut karena ia
tahu bahwa semakin ia mendebat Runi semakin ia akan tampak konyol di hadapan
teman-temannya. Setelah kejadian tersebut tidak ada lagi kejadian lain yang
menganggu jalannya rapat. Total keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk melangsungkan
rapat OSIS hari itu adalah satu jam, setengah jam dengan kehadiran sekretaris
umum dan setengah jam tanpa kehadirannya. Aneh memang, tapi Runi tidak terlalu
memusingkanya. Ia lebih berkosentrasi pada perutnya yang kini tengah memainkan
lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ dengan tempo cepat dan lebih bersemangat dari
marching band sekolah Leiny. Runi kelaparan. Karena itu saat Gerda menutup
rapat, ia nyaris melakukan sujud syukur, walaupun ia tahu ia tetap tidak akan
mendapat makanan setelah rapat selesai.
“Selamat atas IESO-nya ya,” kata Runi saat keluar dari ruang rapat bersama
Gerda. “Kau hebat.”
“Mau memuji agar tidak dapat hukuman? Rapat yang tadi, buat laporannya!”
perintah Gerda tanpa menggubris ucapan selamat dari Runi.
“Tapi, aku hanya mengikuti rapat setengah jam terakhir,” protes Runi.
“Karena itulah aku ingin kau yang membuatnya. Anggap saja itu sebagai
hukuman,” kata Gerda sambil berjalan meninggalkan ruang OSIS.