Selasa, 12 November 2013

180 Days



 chapter 2 lanjutan
Beberapa meter ke arah selatan, Runi menemui gedung asrama putra yang terdiri dari dua bangunan. Gedung asrama putra pertama terletak tepat di sebelah selatan gedung asrama putri sedangkan gedung kedua berada di sebelah barat gedung pertama. Kedua gedung tersebut memiliki arsitektur yang sama. Menurut data yang Runi peroleh dari buku milik Leiny, Gerda aka Hitler dalam versi Leiny, tinggal di gedung pertama. Awalnya Runi ingin mampir dan melihat apakah ia bisa memperbaiki percakapan mereka yang kurang berhasil pagi tadi, tapi akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan berbelok ke arah kiri. Jika jalan yang ia lalui benar maka jalan tersebut akan mengantarkannya ke sebuah danau buatan.
Runi menghentikan perjalanannya di sebuah tempat yang menurut cerita Leiny bukanlah sebuah tempat yang begitu penting bagi warga sekolahnya. Tapi menurut Runi, tempat itu seharusnya menjadi tempat terpenting bagi sekolah tersebut. Bukan karena sekolahnya tidak memiliki danau, tapi karena menurut Runi danau itu memiliki keindahan alami diantara bangunan-bangunan bergaya modern. Seperti sebuah intan di antara serpihan kaca, berbeda, indah, dan menawan.
Danau buatan di sekolah Leiny memiliki air sejernih kaca dan dikelilingi oleh lapangan terbuka berumput pendek. Di sepanjang tepi jalan tempat Runi berdiri dipagari oleh jajaran pohon Ketapang yang cabang-cabangnya saling bertemu dan membentuk tajuk, seolah-olah memayungi jalan beraspal hitam di bawahnya. Tempat itu bagaikan surga, surga yang tak disadari oleh para penghuninya. Runi berharap waktu dapat berhenti sejenak agar ia dapat menikmati keindahan danau itu lebih lama lagi.
“Apa nilai begitu penting bagi mereka hingga tidak menyadari keindahan tampat ini?” gerutu Runi saat menengok ke belakang dan melihat banyak anak yang lebih suka menghabiskan waktu membaca di gedung galon air(ini adalah cara Runi menyebut gedung kantin) “Mereka, ckckck, duduk di dekat tempat yang begitu indah tapi sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari lembaran kertas berjilid,” gerutunya lagi saat menyadari jarak antara kantin dan tempat ia berdiri yang hanya beberapa meter. “Benar-benar jiwa yang malang,” katanya sambil melanjutkan perjalanan.
Runi kembali menyusuri sepanjang jalan beraspal dengan deretan pepohonan mahoni di sisi kiri dan pohon Ketapang di sisi kanan ke arah utara. Deretan pohon di sisi kirinya mulai merenggang dan membuka pemandangan ke arah lapangan upacara yang kini tengah di padati oleh sejumlah petugas upacara yang sedang mengadakan latihan untuk hari Senin. Setelah lapangan upacara tidak ada lagi pepohonan yang tumbuh karena di sebelah utara lapangan upacara, hanya berjarak beberapa meter, berdirilah auditorium yang terletak di sisi kiri pertigaan jalan. Runi berbelok kiri dan kini berjalan di antara gedung auditorium dan wisma guru berlantai sepuluh. Perjalanannya terus berlanjut.
Dari jalan di antara auditorium dan wisma guru, jalan kemudian bercabang ke empat arah. Arah utara akan membawa Runi kembali ke pintu gerbang, arah selatan akan membawa Runi kembali ke asrama Leiny, arah barat daya menuju ke deretan ruang kelas dan kompleks olahraga, dan arah tenggara adalah jalan yang baru saja ia lewati. Pilihan Runi jelas, arah barat daya. Gedung pertama yang ia temui dalam perjalanan kali ini adalah kantor administrasi di sisi kanan dan perpustakaan di sisi kiri. Setelah itu terhamparlah bangunan ruang kelas yang terdiri dari enam gedung di sisi kirinya dan kompleks olahraga yang terdiri dari gym, kolam renang, lapangan basket, dan lapangan sepak bola di sisi kananya.
“Sekolah mu punya dua kolam renang ya, Leiny? Tentu, salah satunya digunakan untuk berlomba bersama Saturnus,” gurau Runi menirukan logat Leiny. “Sekolah yang benar-benar luas, kaki ku, oh, pegal sekali. Lebih baik aku kembali ke asrama,” lanjut Runi saat menyadari rasa pegal mulai menyerang sekujur kakinya.
Runi berbalik dan kembali menuju perempatan untuk kembali ke asrama Leiny. Di sepanjang jalan ini, jalan yang ia lalui pagi tadi yang juga tidak terlalu ia hiraukan, terdapat Balairung yang terletak di sebelah selatan gedung perpustakaan. Lalu di sebelah selatan Balairung terdapat pusat keagamaan. Tempat berdirinya lima bangunan peribadatan dari lima agama besar yang diakui di negaranya. UKS, sebuah bangunan kecil dengan jasa yang besar, juga berada di jalur tersebut. Letaknya tepat di sebelah selatan lapangan upacara.
 “Kau darimana?” tanya Gerda yang sedang berada di sekitar pusat keagamaan dan bertemu dengan Runi yang kebetulan lewat di hadapannya.
“Aku baru saja menikmati indahnya dunia,” jawab Runi.
“Ada apa? Matahari terbit dari barat?” tanya Gerda retoris.
“Tidak,” jawab Runi sekenanya karena ia tidak memahami apa yang aneh dari jawaban pertamanya. “pagi tadi matahari masih terbit dari timur. Kenapa? Kau takut dunia berakhir sebelum kau mendapatkan gelar doktormu?”
“Gadis high profile low profit sepertimu akhirnya menyadari bahwa dunianya indah, jika bukan pertanda akhir zaman lalu apa?” kembali sebuah pertanyaan retoris dilontarkan oleh Gerda.
“Benar, maksudmu akhir zaman keemasan seorang Gerda Andika Putra bukan?” balas Runi. Ia baru menyadari bahwa Leiny mungkin sama dengan anak-anak lain di sekolah itu, tidak menyadari keindahan danau dan lingkungan sekolahnya.
“Baru saja aku bersyukur atas ketidak-connect-an mu pagi ini dan berharap syndrome aneh mu itu bertahan lebih lama, sepertinya aku harus menarik kembali ucapan syukur itu. Jangan lupa, besok ada rapat OSIS!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar