chapter 2 lanjutan
Beberapa meter ke arah selatan, Runi menemui gedung asrama
putra yang terdiri dari dua bangunan. Gedung asrama putra pertama terletak
tepat di sebelah selatan gedung asrama putri sedangkan gedung kedua berada di
sebelah barat gedung pertama. Kedua gedung tersebut memiliki arsitektur yang
sama. Menurut data yang Runi peroleh dari buku milik Leiny, Gerda aka Hitler
dalam versi Leiny, tinggal di gedung pertama. Awalnya Runi ingin mampir dan
melihat apakah ia bisa memperbaiki percakapan mereka yang kurang berhasil pagi
tadi, tapi akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan perjalanan dan berbelok ke
arah kiri. Jika jalan yang ia lalui benar maka jalan tersebut akan
mengantarkannya ke sebuah danau buatan.
Runi menghentikan perjalanannya di sebuah tempat yang menurut
cerita Leiny bukanlah sebuah tempat yang begitu penting bagi warga sekolahnya. Tapi
menurut Runi, tempat itu seharusnya menjadi
tempat terpenting bagi sekolah tersebut. Bukan karena sekolahnya tidak memiliki
danau, tapi karena menurut Runi danau itu memiliki keindahan alami diantara bangunan-bangunan
bergaya modern. Seperti sebuah intan di antara serpihan kaca, berbeda, indah,
dan menawan.
Danau buatan di sekolah Leiny memiliki air sejernih kaca dan dikelilingi oleh lapangan
terbuka berumput pendek. Di sepanjang tepi jalan tempat Runi berdiri dipagari
oleh jajaran pohon Ketapang yang cabang-cabangnya saling bertemu dan membentuk
tajuk, seolah-olah memayungi jalan beraspal hitam di bawahnya. Tempat itu
bagaikan surga, surga yang tak disadari oleh para penghuninya. Runi berharap
waktu dapat berhenti sejenak agar ia dapat menikmati keindahan danau itu lebih
lama lagi.
“Apa nilai begitu penting bagi mereka hingga tidak menyadari
keindahan tampat ini?” gerutu Runi saat menengok ke belakang dan melihat banyak
anak yang lebih suka menghabiskan waktu membaca di gedung galon air(ini adalah
cara Runi menyebut gedung kantin) “Mereka, ckckck, duduk di dekat tempat yang
begitu indah tapi sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari lembaran kertas
berjilid,” gerutunya lagi saat menyadari jarak antara kantin dan tempat ia
berdiri yang hanya beberapa meter. “Benar-benar jiwa yang malang,” katanya
sambil melanjutkan perjalanan.
Runi kembali menyusuri sepanjang jalan beraspal dengan
deretan pepohonan mahoni di sisi kiri dan pohon Ketapang di sisi kanan ke arah
utara. Deretan pohon di sisi kirinya mulai merenggang dan membuka pemandangan
ke arah lapangan upacara yang kini tengah di padati oleh sejumlah petugas
upacara yang sedang mengadakan latihan untuk hari Senin. Setelah lapangan
upacara tidak ada lagi pepohonan yang tumbuh karena di sebelah utara lapangan
upacara, hanya berjarak beberapa meter, berdirilah auditorium yang terletak di
sisi kiri pertigaan jalan. Runi berbelok kiri dan kini berjalan di antara
gedung auditorium dan wisma guru berlantai sepuluh. Perjalanannya terus
berlanjut.
Dari jalan di antara auditorium dan wisma guru, jalan
kemudian bercabang ke empat arah. Arah utara akan membawa Runi kembali ke pintu
gerbang, arah selatan akan membawa Runi kembali ke asrama Leiny, arah barat
daya menuju ke deretan ruang kelas dan kompleks olahraga, dan arah tenggara
adalah jalan yang baru saja ia lewati. Pilihan Runi jelas, arah barat daya.
Gedung pertama yang ia temui dalam perjalanan kali ini adalah kantor
administrasi di sisi kanan dan perpustakaan di sisi kiri. Setelah itu
terhamparlah bangunan ruang kelas yang terdiri dari enam gedung di sisi kirinya
dan kompleks olahraga yang terdiri dari gym, kolam renang, lapangan basket, dan
lapangan sepak bola di sisi kananya.
“Sekolah mu punya dua kolam renang ya, Leiny? Tentu, salah
satunya digunakan untuk berlomba bersama Saturnus,” gurau Runi menirukan logat
Leiny. “Sekolah yang benar-benar luas, kaki ku, oh, pegal sekali. Lebih baik
aku kembali ke asrama,” lanjut Runi saat menyadari rasa pegal mulai menyerang
sekujur kakinya.
Runi berbalik dan kembali menuju perempatan untuk kembali ke
asrama Leiny. Di sepanjang jalan ini, jalan yang ia lalui pagi tadi yang juga
tidak terlalu ia hiraukan, terdapat Balairung yang terletak di sebelah selatan
gedung perpustakaan. Lalu di sebelah selatan Balairung terdapat pusat keagamaan.
Tempat berdirinya lima bangunan peribadatan dari lima agama besar yang diakui
di negaranya. UKS, sebuah bangunan kecil dengan jasa yang besar, juga berada di
jalur tersebut. Letaknya tepat di sebelah selatan lapangan upacara.
“Kau darimana?” tanya
Gerda yang sedang berada di sekitar pusat keagamaan dan bertemu dengan Runi
yang kebetulan lewat di hadapannya.
“Aku baru saja menikmati indahnya dunia,” jawab Runi.
“Ada apa? Matahari terbit dari barat?” tanya Gerda retoris.
“Tidak,” jawab Runi sekenanya karena ia tidak memahami apa
yang aneh dari jawaban pertamanya. “pagi tadi matahari masih terbit dari timur.
Kenapa? Kau takut dunia berakhir sebelum kau mendapatkan gelar doktormu?”
“Gadis high profile low profit sepertimu akhirnya menyadari
bahwa dunianya indah, jika bukan pertanda akhir zaman lalu apa?” kembali sebuah
pertanyaan retoris dilontarkan oleh Gerda.
“Benar, maksudmu akhir zaman keemasan seorang Gerda Andika
Putra bukan?” balas Runi. Ia baru menyadari bahwa Leiny mungkin sama dengan
anak-anak lain di sekolah itu, tidak menyadari keindahan danau dan lingkungan
sekolahnya.
“Baru saja aku bersyukur atas ketidak-connect-an mu pagi ini
dan berharap syndrome aneh mu itu bertahan lebih lama, sepertinya aku harus
menarik kembali ucapan syukur itu. Jangan lupa, besok ada rapat OSIS!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar