4.
Ekstrakulikuler ‘Sihir’
“Sihir, komputer, seni pertahanan, seni bermusik, pengobatan dan ramuan,
walkerin, klub olahraga, koran sekolah, kelompok ilmiah, pencinta alam,
elektronika, klub seni rupa dan kerajinan tangan, keterampilan, yang terakhir
drama,” kata Anne membaca selebaran yang diberikan oleh Miss Adelia sesaat
setelah tes selesai.
“Semua anak tingkat satu kecuali bagi mereka yang berdarah malaikat
diwajibkan mengikuti ekstrakulikuler sihir yang akan menjadi salah satu
kriteria dalam pengasramaan,” sambung Peter.
“Bagi mereka yang berdarah Nordin ekstrakulikuler tersebut akan digantikan dengan seni
pertahanan sebagai kriteria pengasramaan,” How menimpali.
Mereka bertiga saling berpandangan ketika seorang wanita tua yang pernah
mereka temui sebelumnya memasuki ruangan ekstrakulikuler sihir tempat mereka
duduk saat itu. Lalu seorang anak yang sebenarnya tidak mereka harapkan berada
di tempat itu juga muncul. Awalnya mereka bertiga berharap anak itu keturunan
malaikat sehingga mereka tidak akan bertemu dengannya dalam ekstrakulikuler
wajib ini. Tapi anak itu muncul, anak berambut pirang, dengan mata biru laut,
dan semua seragamnya yang tampak sangat mewah. Mereka tidak tahu siapa nama
anak itu, tapi bersepakat untuk memanggilnya ‘Bocah Ferrari’.
Mrs. Demetra memulai kelas sihir pertama bagi anak-anak baru tersebut
dengan sebuah penjelasan singkat tentang jenis sihir yang akan mereka pelajari dan
juga peralatan yang akan mereka butuhkan selama belajar sihir. Ia juga
menjelaskan bahwa mereka tidak akan mempelajari ramuan karena sudah ada sebuah
ekstrakulikuler tersendiri untuk keterampilan
tersebut dan karena akstrakulikuler siang itu merupakan yang pertama
yang akan digunakan sebagai kriteria pengasramaan, beliau hanya akan mengajarkan beberapa mantra sederhana.
Lalu anak-anak akan mempraktikkan mantra tersebut dengan tongkat sihir
miliknya.
Kemudian Mrs. Demetra menjelaskan sebuah mantra untuk mengubah beberapa hal
seperti menerjemahkan bahasa dalam sebuah buku dan mengubah benda-benda
tertentu. Lalu satu persatu anak-anak di kelas itu maju dan mempraktikkan
mantra yang mereka bisa. Beberapa anak yang tampaknya sudah sangat terbiasa
dengan sihir memakai tongkat mereka sendiri dan mempraktikkan mantra yang tidak
diajarkan oleh Mrs. Demetra. Salah satunya adalah Bocah Ferrari yang memindahkan
buku di meja Mrs. Demetra ke meja seorang anak di belakangnya.
“Ya, Tuhan ternyata dia hebat sekali,” bisik Anne.
“Ya, pantas dia sangat arogan,” timpal How.
Saat tiba giliran Peter, How dan Anne menahan nafas mereka karena takut Peter
yang tampaknya sama sekali belum pernah berhubungan dengan sihir, gagal.
Walaupun sebenarnya mereka berdua sendiri juga belum pernah berhubungan dengan
sihir. Tapi Peter dapat mempraktikkan salah satu mantra yang diberikan oleh Mrs.
Demetra dengan baik walaupun Bocah Ferrari yang duduk di bangku depan tampak tersenyum mengejek. Lalu Anne
juga dapat mempraktikkan satu mantra yang tampaknya memiliki tingkat sedikit
lebih sulit dari mantra yang dipraktikkan Peter karena hanya sedikit dari
anak-anak di dalam ruangan itu yang mempraktikkan mantra tersebut.
Kejadian yang sangat mengejutkan terjadi saat tiba giliran How. Anak itu
tanpa mengucapkan mantra apapun mengayunkan tongkat sihir milik Mrs. Demetra ke
arah sebuah ballpoint yang tergeletak di atas meja. Dengan sangat perlahan tapi
pasti ballpoint itu tampak memudar sedikit demi sedikit lalu sepenuhnya hilang.
Semua anak yang memakai tongkat sihir mereka sendiri dan Mrs. Demetra tersentak
kaget dan tampak memandang How dengan tatapan tajam.
“Ada apa Anne?” bisik Peter. Anne hanya menggelengkan kepalanya sebagai
jawaban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar