Minggu, 11 Agustus 2013

180 Days


Bab 2 Kesempatan untuk Runi
Runi mencoba mengingat semua hal yang dikatakan oleh Leiny. Saudari kembarnya itu telah mempersiapkan semua hal yang mungkin ia butuhkan selama berada di sekolah mewahnya itu. Mulai dari susunan guru pengajar, karakter masing-masing guru, mata pelajaran, anggota OSIS, struktur kepemimpinan, hingga jadwal makan, minum, dan kebiasaan yang ia lakukan(hal-hal semacam inilah yang juga ia minta dari Runi sebelum menggantikan posisinya). Tapi Leiny tidak pernah mengatakan bahwa ia bermusuhan dengan ketua OSIS di sekolah itu, atau bahwa ia memanggil siswa itu dengan nama Hitler. Runi bangkit dari tidurnya dan segera menghampiri ransel yang ia letakkan di lantai. Ia mengeluarkan sebuah buku tebal dari dalam ransel  dan kemudian mulai menghafalkan nama-nama yang tertulis di dalamnya.
Buku itu lebih mirip album kenangan daripada buku persiapan perpindahan posisi(begitulah Leiny menyebutnya) karena selain berisi nama dan data pribadi siswa, buku itu juga berisi foto masing-masing siswa. Hanya satu nama yang tidak dilengkapi dengan foto, dan nama tersebut adalah nama sang ketua OSIS. Tentunya hal itu dilakukan oleh Leiny bukan karena ia membenci siswa tersebut tapi karena ia tahu bahwa Runi akan mengenalinya dengan mudah bahkan tanpa tambahan foto. Sambil menghafalkan nama-nama teman Leiny, Runi mulai memperhatikan kamar asrama saudari kembarnya itu.
Dinding ruangan tersebut seluruhnya berwarna netral dengan sebuah jendela menghadap ke arah barat daya. Seberkas cahaya redup menembus kain korden jendela yang berwarna coklat keemasan. Di sebelah kanan jendela terdapat sebuah pintu keluar menuju balkon. Di sisi kiri jendela, lebih dekat ke arah tempat tidur, terdapat sebuah meja belajar dengan seperangkat PC di atasnya. Di sebelah kanan meja belajar, lebih dekat ke arah jendela, terdapat sebuah rak buku yang dipenuhi oleh sejumlah buku dengan berbagai ukuran dan tingkat ketebalan. Runi berdiri dan menghampiri almari pakaian Leiny yang terletak tepat di depan pintu masuk. Ia membuka pintu almari tersebut dan menemukan pemandangan relatif dari sebuah almari, pakaian. Tapi pakaian yang tersimpan di dalam almari Leiny sedikit berbeda, bukan hanya karena keseluruhannya memiliki merk dagang terkenal, tapi juga karena kehadiran beberapa pasang seragam sekolah yang asing bagi Runi. Selain pakaian ternyata Leiny juga menggunakan almarinya untuk menyimpan sejumlah sepatu. Runi meringis ngeri melihat sepasang sepatu olahraga, dua pasang sepatu sekolah, dan sepasang sepatu pesta dengan hak sedang. Ia teringat akan kondisi sepatu sekolahnya di rumah yang mungkin sekarang sedang dipakai oleh Leiny.
Puas melihat-lihat isi kamar Leiny, Runi beralih pada denah sekolah baru sementaranya tersebut. Sementara, karena ia tidak akan menggantikan Leiny untuk selamanya. Ia lalu memutuskan untuk berjalan-jalan sambil menghafal letak bangunan-bangunan di sekolah itu. Inisiatif ini ia ambil karena menurutnya akan lebih aman untuk menghafal kompleks sekolah sebelum hari efektif dimulai, dengan demikian tidak terlalu banyak siswa yang memperhatikan kegiatan anehnya itu. Selain itu, sekolah Leiny menempati lahan yang cukup luas dan Runi tidak yakin ia mampu menghafalkan semua tempat tanpa harus mengunjunginya satu persatu. Tentunya bukan suatu hal yang lucu jika tiba-tiba seorang siswi tingkat akhir seperti Leiny tersesat dalam perjalanannya menuju kantin atau ruang OSIS. Perjalanan ia mulai dengan keluar dari Nightigale prefecture dan berjalan lurus ke arah selatan. Bangunan pertama yang ia temui adalah kantin yang tepat berseberangan dengan bangunan asrama Leiny. (bersambung)