Bab 2 Kesempatan
untuk Runi
Runi mencoba mengingat semua hal yang dikatakan oleh Leiny. Saudari
kembarnya itu telah mempersiapkan semua hal yang mungkin ia butuhkan selama
berada di sekolah mewahnya itu. Mulai dari susunan guru pengajar, karakter
masing-masing guru, mata pelajaran, anggota OSIS, struktur kepemimpinan, hingga
jadwal makan, minum, dan kebiasaan yang ia lakukan(hal-hal semacam inilah yang
juga ia minta dari Runi sebelum menggantikan posisinya). Tapi Leiny tidak
pernah mengatakan bahwa ia bermusuhan dengan ketua OSIS di sekolah itu, atau
bahwa ia memanggil siswa itu dengan nama Hitler. Runi bangkit dari tidurnya dan
segera menghampiri ransel yang ia letakkan di lantai. Ia mengeluarkan sebuah
buku tebal dari dalam ransel dan
kemudian mulai menghafalkan nama-nama yang tertulis di dalamnya.
Buku itu lebih mirip album kenangan daripada buku persiapan perpindahan
posisi(begitulah Leiny menyebutnya) karena selain berisi nama dan data pribadi
siswa, buku itu juga berisi foto masing-masing siswa. Hanya satu nama yang
tidak dilengkapi dengan foto, dan nama tersebut adalah nama sang ketua OSIS.
Tentunya hal itu dilakukan oleh Leiny bukan karena ia membenci siswa tersebut
tapi karena ia tahu bahwa Runi akan mengenalinya dengan mudah bahkan tanpa
tambahan foto. Sambil menghafalkan nama-nama teman Leiny, Runi mulai memperhatikan
kamar asrama saudari kembarnya itu.
Dinding ruangan tersebut seluruhnya berwarna netral dengan sebuah jendela
menghadap ke arah barat daya. Seberkas cahaya redup menembus kain korden
jendela yang berwarna coklat keemasan. Di sebelah kanan jendela terdapat sebuah
pintu keluar menuju balkon. Di sisi kiri jendela, lebih dekat ke arah tempat tidur, terdapat sebuah meja
belajar dengan seperangkat PC di atasnya. Di sebelah kanan meja belajar, lebih
dekat ke arah jendela, terdapat sebuah rak buku yang dipenuhi oleh sejumlah buku
dengan berbagai ukuran dan tingkat ketebalan. Runi berdiri dan menghampiri
almari pakaian Leiny yang terletak tepat di depan pintu masuk. Ia membuka pintu
almari tersebut dan menemukan pemandangan relatif dari sebuah almari, pakaian.
Tapi pakaian yang tersimpan di dalam almari Leiny sedikit berbeda, bukan hanya
karena keseluruhannya memiliki merk dagang terkenal, tapi juga karena kehadiran
beberapa pasang seragam sekolah yang asing bagi Runi. Selain pakaian ternyata
Leiny juga menggunakan almarinya untuk menyimpan sejumlah sepatu. Runi meringis
ngeri melihat sepasang sepatu olahraga, dua pasang sepatu sekolah, dan sepasang
sepatu pesta dengan hak sedang. Ia teringat akan kondisi sepatu sekolahnya di
rumah yang mungkin sekarang sedang dipakai oleh Leiny.
Puas melihat-lihat isi kamar Leiny, Runi beralih pada denah sekolah baru
sementaranya tersebut. Sementara, karena ia tidak akan menggantikan Leiny untuk
selamanya. Ia lalu memutuskan untuk berjalan-jalan sambil menghafal letak bangunan-bangunan
di sekolah itu. Inisiatif ini ia ambil karena menurutnya akan lebih aman untuk
menghafal kompleks sekolah sebelum hari efektif dimulai, dengan demikian tidak
terlalu banyak siswa yang memperhatikan kegiatan anehnya itu. Selain itu,
sekolah Leiny menempati lahan yang cukup luas dan Runi tidak yakin ia mampu
menghafalkan semua tempat tanpa harus mengunjunginya satu persatu. Tentunya
bukan suatu hal yang lucu jika tiba-tiba seorang siswi tingkat akhir seperti
Leiny tersesat dalam perjalanannya menuju kantin atau ruang OSIS. Perjalanan ia
mulai dengan keluar dari Nightigale prefecture dan berjalan lurus ke arah
selatan. Bangunan pertama yang ia temui adalah kantin yang tepat berseberangan
dengan bangunan asrama Leiny. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar