Senin, 30 Desember 2013

The Five Jewels: Permata Kelima



3.      Tes
Esoknya, pagi-pagi benar, mereka berdua telah berjalan menuju sekolah. Beberapa anak tampak memperhatikan mereka berdua yang berangkat ke sekolah sangat pagi bahkan ketika anak-anak lain belum selesai dengan sarapan mereka. Dari kejauhan tampak seorang anak perempuan melambaikan tangan pada mereka berdua. Dari ciri-ciri yang tampak mereka dapat mengenalinya sebagai Anne, teman mereka. Beberapa kali anak itu tampak meneriakkan sesuatu tapi How dan Peter tak dapat mendengar dengan jelas apa yang ia teriakkan. Setelah cukup dekat, Anne kembali berteriak dan kali ini kedua teman laki-lakinya dapat mendengarnya dengan jelas. Kedua anak itu langsung berlari ke arah Anne.
“Kalian tidak akan percaya ini,” kata Anne. “Lihat itu!” lanjutnya lagi sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di tempat parkir itu. “Itu adalah Ferrari California, pemiliknya pasti kaya sekali.”
“Ayo, kita mendekat!” ajak How sambil berjalan mendekati mobil yang dimaksud Anne.
“Permisi,” kata sebuah suara saat mereka bertiga asyik memperhatikan mobil tersebut. “Jika kalian tidak keberatan, tolong jauhi Nona California-ku karena ia sedikit alergi pada debu.”
Mereka bertiga terkejut dan langsung mundur selangkah menjauh dari mobil mewah itu. Lalu mereka menengok ke arah suara itu berasal. Seorang anak berambut pirang dengan kulit agak pucat dan berpakaian sangat rapi jika dibandingkan dengan pakaian yang mereka pakai, tampak berdiri di sana. Tidak diragukan lagi, dia adalah pemilik mobil itu. Anne baru akan meminta maaf kepada anak itu ketika tiba-tiba How lebih dulu mengajukan sebuah pertanyaan.
“Kau kenal Emy, bukan?” tanyanya.
Anak itu tampak menatap mereka dengan tajam lalu berkata dengan nada dan ekspresi tidak menyenangkan, “Berterima kasihlah pada Tuhan karena kalian menyebutkan nama Drakes, jika saja itu adalah nama seorang Walker, kalian tidak akan pernah mendengar desauan angin lagi.” Kemudian anak itu pergi meninggalkan mereka bertiga di tempat parkir itu.
“Penutupannya bagus sekali,” desis Anne saat mereka bertiga berjalan menuju kelas mereka. Mungkin hanya dia yang mengerti dan memikirkan kata-kata anak berambut pirang tadi. Kedua temannya hanya mengangap kata-kata anak tadi sebagai sebuah kata-kata kasar yang sangat diperhalus karena ia tak ingin tampak seperti orang-orang biasa.
Butuh waktu yang sangat lama bagi mereka untuk menunggu bel sekolah yang menandakan jam pelajaran dimulai berdentang. Selama menunggu, mereka menceritakan banyak hal tentang tempat penginapan sementara mereka, tentang rumah mereka di Inggris, tentang keluarga mereka, dan tentang sekolah lama mereka. How menceritakan tentang bagaimana keluarganya hidup bahagia walaupun tidak memiliki banyak uang, sedangkan dua temannya memiliki kisah-kisah sedih tentang keluarga mereka. Peter menceritakan tentang bagaimana ia merasakan kehilangan ketika ibunya meninggal dan Anne tidak terlalu suka membahas keluarganya. Ia hanya mengatakan bahwa keluarganya tidak semenyenangkan keluarga How. Anne juga mengatakan bahwa Emy dan Elly mengunjunginya di rumah Costance kemarin dan meminjamkan banyak buku.
Ketika bel tanda pelajaran dimulai berdentang, tiga orang guru memasuki kelas mereka. Dua diantaranya adalah seorang wanita. Seorang wanita membawa sebuah papan kayu tempat selembar kertas tertempel dan sebuah pena, sedangkan dua orang lainnya tampak menyiapkan berlembar-lembar kertas. Setelah memberikan salam selamat pagi, mereka bertiga meminta agar satu bangku di depan dikosongkan. Lalu dua orang yang tidak membawa papan duduk di kursi dan seorang yang membawa papan berdiri di dekat satu-satunya pria dalam kelompok tersebut.
“Hari ini seperti yang kalian ketahui, kita akan mengadakan tes bakat yang akan menentukan dimana kalian akan diasramakan. Aku akan memanggil nama kalian satu persatu dan kalian harus maju ke meja ini, tepatnya ke arah Mr. Cornelius Ob,” katanya sambil menunjuk pria di sampingnya. “Yang akan membantu kalian mengetahui kekuatan mana dari diri kalian yang lebih kuat. Lalu Miss. Adellia Van Der Wullenz akan memberi kalian angket pilihan ekstrakulikuler. Baiklah kita mulai, Pirch, Anne”
Anne maju ke depan tepatnya ke depan Mr. Ob. Pria itu mengeluarkan selembar kertas tipis lalu berkata, “Selamat pagi nona Pirch, bagaimana kabarmu?”
“Baik, sangat baik,” jawab Anne bersemangat.
“Kalau begitu tolong ulurkan tanganmu.” Anne mengulurkan tangan kanannya. “Genggam kertas ini, tenang, dan rasakan apa yang terjadi,” lanjut Mr. Ob sambil menaruh selembar kertas di atas telapak tangan Anne. Anne menggenggam kertas itu, selama beberapa saat tidak ada yang terjadi. “Apa yang kau rasakan?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Anne. “Hangat,” katanya bahkan sebelum Mr. Ob sempat memberi instruksi selanjutnya. Anne membuka tangannya dan disana tak lagi tampak kertas yang tadi diletakkan Mr. Ob tapi tampak seekor naga kecil dari kertas. Lalu sedetik kemudian sebelum Anne atau siapapun merasa puas mengamati benda kecil itu, benda itu menyemburkan api hijau yang kemudian membakarnya hingga menjadi abu.
“Menarik, bidadari,” kata Mr. Ob. Miss Adelia mengulurkan selembar kertas kepada Anne disertai sesungging senyum ramah.
Wanita yang berdiri kembali memanggil nama seorang anak yang diikuti oleh nama-nama anak lainnya. Seorang anak merasa heran karena walaupun kertasnya juga membentuk naga tapi naganya tidak menyemburkan api seperti naga milik Anne. Seorang anak yang sangat pendiam membentuk burung dengan kertasnya, menandakan bahwa ia adalah keturunan malaikat. Beberapa anak lain membentuk kertasnya menjadi manusia-manusia kerdil seperti Dwarf yang menandakan bahwa mereka adalah keturunan elf.
“Davidson, Howard,” panggil suara di depan kelas.
How berdiri dan menghampiri meja di depan kelas dengan sangat santai dan tenang. Beberapa saat kemudian ia sudah menggenggam kertas yang sama seperti anak-anak lain. Beberapa detik berlalu, tangan How mulai berkeringat tapi ia belum bisa merasakan apapun. Karena bosan menunggu ia membuka tangannya dan disana di telapak tangannya yang hampir penuh dengan keringat, duduk dengan anggun seekor mermaid. Seperti yang terjadi pada naga Anne, mermaid itu menyemburkan air dengan mulutnya dan menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam air.
“Menarik sekali, peri,” puji Mr. Ob.
“Ya,” jawab How bahkan sebelum Mr. Ob mengajukan pertanyaan. “Kami berasal dari Inggris, aku teman Miss Pirch, dan ada satu orang lagi Peter.”
“Menarik, coba kita lihat Peter ini, Lin,” kata Mr. Ob kepada wanita yang berdiri disampingnya.
“Widdle, Peter,” panggil wanita itu.
Peter menggumam dan sempat memandangi How(menyalahkannya tepatnya) karena mengatakan bahwa ada satu orang lagi yang mungkin menunjukkan sesuatu yang menarik seperti Anne dan dirinya. Peter menggenggam kertasnya dengan sangat hati-hati dan lebih cepat dari dugaan siapapun ia kembali membuka tangannya. Beberapa kuntum bunga yang berasal dari jenis berbeda tampak memenuhi tangan Peter. Lalu ketika mereka menunggu apa yang akan disemburkan bunga itu, kelopak-kelopak indah yang entah bagaimana bisa memiliki warna berbeda-beda, perlahan-lahan terbang ke udara mengitari Peter dan orang-orang di depan kelas.
“Manusia,” kali ini bukan Mr. Ob yang berbicara melainkan Miss Adelia. “Akhirnya kita bertemu juga, Peter,” lanjutnya sambil mengulurkan beberapa lembar kertas kepada Peter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar