3.
Tes
Esoknya, pagi-pagi benar, mereka berdua telah berjalan menuju sekolah.
Beberapa anak tampak memperhatikan mereka berdua yang berangkat ke sekolah
sangat pagi bahkan ketika anak-anak lain belum selesai dengan sarapan mereka.
Dari kejauhan tampak seorang anak perempuan melambaikan tangan pada mereka
berdua. Dari ciri-ciri yang tampak mereka dapat mengenalinya sebagai Anne,
teman mereka. Beberapa kali anak itu tampak meneriakkan sesuatu tapi How dan
Peter tak dapat mendengar dengan jelas apa yang ia teriakkan. Setelah cukup
dekat, Anne kembali berteriak dan kali ini kedua teman laki-lakinya dapat
mendengarnya dengan jelas. Kedua anak itu langsung berlari ke arah Anne.
“Kalian tidak akan percaya ini,” kata Anne. “Lihat itu!” lanjutnya lagi
sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di tempat parkir itu. “Itu adalah
Ferrari California, pemiliknya pasti kaya sekali.”
“Ayo, kita mendekat!” ajak How sambil berjalan mendekati mobil yang
dimaksud Anne.
“Permisi,” kata sebuah suara saat mereka bertiga asyik memperhatikan mobil
tersebut. “Jika kalian tidak keberatan, tolong jauhi Nona California-ku karena
ia sedikit alergi pada debu.”
Mereka bertiga terkejut dan langsung mundur selangkah menjauh dari mobil
mewah itu. Lalu mereka menengok ke arah suara itu berasal. Seorang anak
berambut pirang dengan kulit agak pucat dan berpakaian sangat rapi jika
dibandingkan dengan pakaian yang mereka pakai, tampak berdiri di sana. Tidak
diragukan lagi, dia adalah pemilik mobil itu. Anne baru akan meminta maaf
kepada anak itu ketika tiba-tiba How lebih dulu mengajukan sebuah pertanyaan.
“Kau kenal Emy, bukan?” tanyanya.
Anak itu tampak menatap mereka dengan tajam lalu berkata dengan nada dan
ekspresi tidak menyenangkan, “Berterima kasihlah pada Tuhan karena kalian
menyebutkan nama Drakes, jika saja itu adalah nama seorang Walker, kalian tidak
akan pernah mendengar desauan angin lagi.” Kemudian anak itu pergi meninggalkan
mereka bertiga di tempat parkir itu.
“Penutupannya bagus sekali,” desis Anne saat mereka bertiga berjalan
menuju kelas mereka. Mungkin hanya dia yang mengerti dan memikirkan kata-kata
anak berambut pirang tadi. Kedua temannya hanya mengangap kata-kata anak tadi sebagai
sebuah kata-kata kasar yang sangat diperhalus karena ia tak ingin tampak
seperti orang-orang biasa.
Butuh waktu yang sangat lama bagi mereka untuk menunggu bel sekolah yang
menandakan jam pelajaran dimulai berdentang. Selama menunggu, mereka
menceritakan banyak hal tentang tempat penginapan sementara mereka, tentang
rumah mereka di Inggris, tentang keluarga mereka, dan tentang sekolah lama
mereka. How menceritakan tentang bagaimana keluarganya hidup bahagia walaupun
tidak memiliki banyak uang, sedangkan dua temannya memiliki kisah-kisah sedih
tentang keluarga mereka. Peter menceritakan tentang bagaimana ia merasakan
kehilangan ketika ibunya meninggal dan Anne tidak terlalu suka membahas
keluarganya. Ia hanya mengatakan bahwa keluarganya tidak semenyenangkan
keluarga How. Anne juga mengatakan bahwa Emy dan Elly mengunjunginya di rumah
Costance kemarin dan meminjamkan banyak buku.
Ketika bel tanda pelajaran dimulai berdentang, tiga orang guru memasuki
kelas mereka. Dua diantaranya adalah seorang wanita. Seorang wanita membawa
sebuah papan kayu tempat selembar kertas tertempel dan sebuah pena, sedangkan
dua orang lainnya tampak menyiapkan berlembar-lembar kertas. Setelah memberikan
salam selamat pagi, mereka bertiga meminta agar satu bangku di depan
dikosongkan. Lalu dua orang yang tidak membawa papan duduk di kursi dan seorang
yang membawa papan berdiri di dekat satu-satunya pria dalam kelompok tersebut.
“Hari ini seperti yang kalian ketahui, kita akan mengadakan tes bakat yang
akan menentukan dimana kalian akan diasramakan. Aku akan memanggil nama kalian
satu persatu dan kalian harus maju ke meja ini, tepatnya ke arah Mr. Cornelius
Ob,” katanya sambil menunjuk pria di sampingnya. “Yang akan membantu kalian
mengetahui kekuatan mana dari diri kalian yang lebih kuat. Lalu Miss. Adellia
Van Der Wullenz akan memberi kalian angket pilihan ekstrakulikuler. Baiklah
kita mulai, Pirch, Anne”
Anne maju ke depan tepatnya ke depan Mr. Ob. Pria itu mengeluarkan
selembar kertas tipis lalu berkata, “Selamat pagi nona Pirch, bagaimana
kabarmu?”
“Baik, sangat baik,” jawab Anne bersemangat.
“Kalau begitu tolong ulurkan tanganmu.” Anne mengulurkan tangan kanannya.
“Genggam kertas ini, tenang, dan rasakan apa yang terjadi,” lanjut Mr. Ob
sambil menaruh selembar kertas di atas telapak tangan Anne. Anne menggenggam
kertas itu, selama beberapa saat tidak ada yang terjadi. “Apa yang kau
rasakan?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab Anne. “Hangat,” katanya bahkan sebelum Mr. Ob
sempat memberi instruksi selanjutnya. Anne membuka tangannya dan disana tak
lagi tampak kertas yang tadi diletakkan Mr. Ob tapi tampak seekor naga kecil
dari kertas. Lalu sedetik kemudian sebelum Anne atau siapapun merasa puas
mengamati benda kecil itu, benda itu menyemburkan api hijau yang kemudian
membakarnya hingga menjadi abu.
“Menarik, bidadari,” kata Mr. Ob. Miss Adelia mengulurkan selembar kertas
kepada Anne disertai sesungging senyum ramah.
Wanita yang berdiri kembali memanggil nama seorang anak yang diikuti oleh
nama-nama anak lainnya. Seorang anak merasa heran karena walaupun kertasnya
juga membentuk naga tapi naganya tidak menyemburkan api seperti naga milik
Anne. Seorang anak yang sangat pendiam membentuk burung dengan kertasnya, menandakan
bahwa ia adalah keturunan malaikat. Beberapa anak lain membentuk kertasnya
menjadi manusia-manusia kerdil seperti Dwarf yang menandakan bahwa mereka
adalah keturunan elf.
“Davidson, Howard,” panggil suara di depan kelas.
How berdiri dan menghampiri meja di depan kelas dengan sangat santai dan
tenang. Beberapa saat kemudian ia sudah menggenggam kertas yang sama seperti
anak-anak lain. Beberapa detik berlalu, tangan How mulai berkeringat tapi ia
belum bisa merasakan apapun. Karena bosan menunggu ia membuka tangannya dan
disana di telapak tangannya yang hampir penuh dengan keringat, duduk dengan
anggun seekor mermaid. Seperti yang terjadi pada naga Anne, mermaid itu
menyemburkan air dengan mulutnya dan menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam
air.
“Menarik sekali, peri,” puji Mr. Ob.
“Ya,” jawab How bahkan sebelum Mr. Ob mengajukan pertanyaan. “Kami berasal
dari Inggris, aku teman Miss Pirch, dan ada satu orang lagi Peter.”
“Menarik, coba kita lihat Peter ini, Lin,” kata Mr. Ob kepada wanita yang
berdiri disampingnya.
“Widdle, Peter,” panggil wanita itu.
Peter menggumam dan sempat memandangi How(menyalahkannya tepatnya) karena
mengatakan bahwa ada satu orang lagi yang mungkin menunjukkan sesuatu yang
menarik seperti Anne dan dirinya. Peter menggenggam kertasnya dengan sangat
hati-hati dan lebih cepat dari dugaan siapapun ia kembali membuka tangannya. Beberapa
kuntum bunga yang berasal dari jenis berbeda tampak memenuhi tangan Peter. Lalu
ketika mereka menunggu apa yang akan disemburkan bunga itu, kelopak-kelopak
indah yang entah bagaimana bisa memiliki warna berbeda-beda, perlahan-lahan
terbang ke udara mengitari Peter dan orang-orang di depan kelas.
“Manusia,” kali ini bukan Mr. Ob yang berbicara melainkan Miss Adelia. “Akhirnya
kita bertemu juga, Peter,” lanjutnya sambil mengulurkan beberapa lembar kertas
kepada Peter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar